Gizi Seimbang Anak: Turunkan Stunting dengan Menu Lokal Murah di Rumah

Penulis: Haris Maulana  •  Senin, 31 Agustus 2026 | 16:03:02 WIB
Ahli gizi Puskesmas Tanah Tinggi memaparkan menu lokal murah seperti nasi, telur, dan sayuran untuk mencegah stunting pada anak.

JAWA BARAT — Stunting bukan sekadar masalah tinggi badan anak. Di baliknya ada risiko gangguan perkembangan otak dan daya tahan tubuh. Namun kabar baiknya, pencegahan bisa dimulai dari hal paling sederhana: makanan yang tersaji di meja makan rumah.

Pekan ini, Ahli Gizi dari Puskesmas Tanah Tinggi Kota Tangerang, dr Een Resita, mengingatkan bahwa pemenuhan gizi seimbang tidak harus membebani kantong. Bahan pangan lokal yang mudah ditemukan justru bisa menjadi sumber nutrisi utama jika diolah dengan tepat.

Stunting di Tangerang Turun: Bukti dari Perubahan Kecil di Rumah

Angka 5,3 persen itu bukan sekadar statistik. Ini hasil kerja keras banyak pihak, mulai dari pemerintah kota, kader posyandu, hingga orang tua di rumah. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangerang mencatat penurunan prevalensi stunting ini setelah berbagai program keluarga berjalan masif.

Kepala Dinkes Kota Tangerang, Dini Anggaraeni, menegaskan bahwa penguatan ketahanan keluarga menjadi fondasi utama untuk mencetak generasi yang sehat dan cerdas. Fokusnya bukan lagi pada pengobatan, melainkan pencegahan sejak dini.

Gizi Seimbang Tanpa Bahan Mahal: Pilih Nasi, Telur, dan Sayuran

"Banyak menu lokal yang mudah didapat orang tua bagi anak dan memiliki nutrisi besar seperti nasi, telur, dan sayuran," ujar dr Een Resita, Senin di Tangerang. Kombinasi tiga bahan ini sudah mencakup karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral yang dibutuhkan anak setiap hari.

Yang ditekankan bukanlah bahan yang mewah, melainkan cara mengolahnya. Misalnya, telur bisa dijadikan omelet sayur, nasi diolah menjadi bubur dengan tambahan wortel dan bayam. Anak tetap lahap, nutrisi tetap terpenuhi.

Cara Memantau Tumbuh Kembang Anak di Rumah

Selain menyediakan makanan bergizi, pemantauan rutin menjadi kunci berikutnya. Orang tua perlu mencatat berat badan dan tinggi badan anak secara berkala. Hal ini bisa dilakukan di rumah dengan timbangan sederhana atau berkunjung ke posyandu terdekat.

"Melalui pemantauan dan pendampingan secara rutin, kita bisa mengetahui pertumbuhan anak dan bisa melakukan upaya intervensi lain jika diperlukan," tambah dr Een.

Jika ditemukan berat badan yang stagnan atau turun, ibu tidak perlu panik. Segera konsultasikan ke posyandu atau puskesmas. Deteksi dini selalu lebih baik daripada menunggu gejala serius muncul.

Bukan Hanya Tugas Ibu: Peran Posyandu dan Kader

Pemerintah Kota Tangerang telah mengerahkan kader posyandu untuk melakukan kunjungan rumah secara langsung. Mereka tidak hanya menimbang bayi, tetapi juga memberikan edukasi gizi kepada orang tua. Intervensi dimulai bahkan sejak masa calon pengantin dan 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

Program ini berjalan optimal karena melibatkan semua elemen: ibu, ayah, kader, dan pemerintah. Ini bukan beban, melainkan gotong royong untuk masa depan anak-anak.

Kapan Segera Bawa Anak ke Posyandu? Tanda Bahaya yang Perlu Diwaspadai

Beberapa kondisi perlu diwaspadai: bila berat badan anak tidak naik dua bulan berturut-turut, tinggi badan jauh di bawah standar usianya, atau anak tampak lesu dan mudah sakit. Dalam kasus seperti ini, segera periksakan ke posyandu atau puskesmas terdekat.

Peran orang tua tidak berhenti di dapur. Konsistensi dalam memantau dan memberi asupan terbaik setiap hari membuat perubahan besar. Buktinya, angka stunting di Tangerang sudah turun drastis. Sekarang giliran kita di rumah untuk melanjutkan hasil baik ini.

Reporter: Haris Maulana
Sumber: banten.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top