SUBANG — Usaha kuliner khas Sunda ini membuktikan bahwa cita rasa otentik masih punya tempat di tengah gempuran inovasi modern. Warung Bakakak Parantina Nusasari yang berdiri sejak 1994 di Jalan Cimanggu, Cisalak, Subang, mencatatkan penjualan hingga tiga kali lipat saat libur panjang dan Idulfitri.
Manager Operasional Warung Bakakak Parantina Nusasari, Yuni Septiani, mengatakan bahwa ayam bakakak yang mereka sajikan menggunakan ayam kampung asli. Proses pembakaran dilakukan dalam kondisi ayam utuh tanpa melalui tahap marinasi.
“Ayam bakakak merupakan makanan khas Sunda, olahan ayam kampung asli yang dibakar tanpa marinasi. Jadi langsung dibumbui di atas arang,” ujar Yuni saat berbincang bersama Pro3 RRI Jakarta, Minggu (30/8).
Keunikan warung ini terletak pada komitmennya menjaga keaslian rasa. Resep yang digunakan hingga kini masih sama dengan resep awal keluarga pemilik, yang berawal dari kegemaran pribadi terhadap ayam bakakak.
Yuni menegaskan bahwa pihaknya tidak akan mengubah cita rasa utama ayam bakakak meski persaingan kuliner semakin ketat. Inovasi justru dilakukan pada menu pendamping dan sambal untuk melengkapi hidangan utama.
“Kalau untuk bakakak, kita tidak akan mengubah rasa. Kita mengutamakan otentik, jadi resep turun-temurun tetap dipertahankan,” kata Yuni.
Ayam bakakak memang identik dengan hajatan masyarakat Sunda, seperti khitanan dan pernikahan. Kehadiran warung ini memungkinkan masyarakat menikmati hidangan tradisional tersebut tanpa harus menunggu momen tertentu.
Pelanggan Warung Parantina Nusasari tidak hanya datang dari sekitar Subang. Yuni menyebut pembeli berasal dari berbagai daerah, termasuk Sumatra, Jakarta, dan Bandung. Harga ayam bakakak dibanderol mulai Rp90 ribu hingga Rp115 ribu per ekor, tergantung ukuran.
Bagi pelanggan yang berasal dari luar daerah, warung ini menyediakan layanan take-away. Ayam bakakak dapat disimpan hingga dua hari dalam freezer dan dipanaskan kembali sebelum disantap tanpa mengurangi kualitas rasanya.
Bertahannya Warung Bakakak Parantina Nusasari selama lebih dari tiga dekade menunjukkan bahwa kuliner tradisional mampu bersaing di pasar modern. Proses pembakaran langsung di atas arang tanpa marinasi menjadi ciri khas yang sulit ditiru oleh pelaku usaha lain.
Dengan volume penjualan yang stabil, usaha ini turut menggerakkan ekonomi lokal, mulai dari peternak ayam kampung hingga pemasok bumbu dapur di sekitar Cisalak. Keberadaannya menjadi bukti bahwa warisan kuliner Sunda tetap relevan bagi generasi masa kini.