JAWA BARAT — Pasar saham Indonesia menunjukkan sinyal positif di tengah gejolak global. Dalam dua hari berturut-turut—Selasa (9/6) dan Rabu (10/6)—IHSG ditutup di zona hijau dengan penguatan total mencapai 2,71%. Indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan juga ikut terdongkrak naik 3,54% ke posisi 589,48.
Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menilai ada dua faktor utama di balik reli ini. Pertama, penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang mulai stabil. Kedua, aksi buyback saham yang gencar dilakukan oleh bank-bank pelat merah seperti BRI, Bank Mandiri, dan BNI.
"Kinerja IHSG dalam 2 hari ini disebabkan oleh penguatan rupiah dan buyback saham oleh BUMN. Aksi BUMN tersebut bisa melawan net outflow asing yang terjadi dalam 2 hari tersebut," ujar Wijayanto.
Langkah buyback ini mendapat dukungan penuh dari pimpinan DPR. Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad, dalam pertemuan dengan para direktur utama Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) pada Selasa (9/6), mendorong percepatan pembelian kembali saham yang harganya tertekan akibat gejolak pasar global.
Hadir dalam pertemuan tersebut Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, COO Danantara sekaligus Kepala BP BUMN Dony Oskaria, serta jajaran direksi BUMN. Mereka antara lain Dirut BNI Putrama Wahju Setyawan, Dirut Bank Mandiri Riduan, Dirut BRI Hery Gunardi, Dirut Taspen Rony Hanityo Aprianto, dan Dirut BPJS Ketenagakerjaan Mayjen TNI (Purn) Prihati Pujowaskito.
“Pagi ini kita berkumpul untuk koordinasi, terutama kita akan berdiskusi banyak soal saham-saham BUMN yang sebenarnya bagus-bagus. Tapi kemudian dengan situasi pasar global yang berdampak,” kata Dasco sebelum pertemuan.
Meski pasar tengah bergairah, Wijayanto Samirin mengingatkan bahwa momentum ini tidak akan berkelanjutan jika persoalan mendasar tidak segera diatasi. Menurutnya, pemerintah harus fokus pada tiga agenda utama agar IHSG bisa terus menguat dalam jangka panjang.
“Jika ingin IHSG terus menguat, maka permasalahan utama harus dipecahkan, dengan: transparansi pasar modal, penguatan fiskal, serta perbaikan iklim investasi dan pengakhiran kecenderungan pemerintah mengeluarkan kebijakan yang tidak terprediksi dan tidak market/business friendly,” tuturnya.
Artinya, aksi buyback BUMN dan penguatan rupiah memang menjadi katalis jangka pendek yang efektif. Namun, tanpa perbaikan regulasi dan kepastian kebijakan, investor asing belum tentu kembali percaya diri menanamkan modalnya di bursa saham Tanah Air.