Kiribati Kejar Tiket Piala Dunia 2030 Sebelum Negaranya Tenggelam, Ini Ceritanya

Penulis: Haris Maulana  •  Selasa, 09 Juni 2026 | 08:00:31 WIB
Presiden Federasi Sepak Bola Kiribati, Eriati Reebo, menyampaikan aspirasi bergabung dengan OFC di Kongres FIFA Kanada.

JAWA BARAT — Terletak di 33 pulau karang yang tersebar di empat belahan bumi, Kiribati menjadi salah satu negara yang paling rentan terhadap perubahan iklim. Para ahli memperingatkan sebagian besar wilayahnya bisa tak layak huni dalam beberapa dekade mendatang jika permukaan laut terus naik. Pemerintah setempat bahkan telah membeli tanah di Fiji sebagai lokasi relokasi warga.

Sepak Bola Jadi Alat Diplomasi Iklim

Di tengah situasi genting itu, Federasi Sepak Bola Kiribati justru mengambil langkah berani. April lalu, Presiden Federasi Eriati Reebo menghadiri Kongres FIFA di Kanada untuk menyampaikan langsung keinginan negaranya bergabung dengan OFC. Jika diterima, Kiribati akan berpeluang bersaing dengan raksasa kawasan seperti Selandia Baru di kualifikasi Piala Dunia.

"Ini mungkin kesempatan terakhir kita," kata Reebo, menggambarkan urgensi di balik langkah diplomasi sepak bola tersebut. Bagi rakyatnya, sepak bola adalah cara untuk menceritakan kisah perjuangan mereka melawan alam kepada dunia.

Lapangan Berpasir dan Turnamen Amatir

Fasilitas sepak bola di Kiribati masih sangat terbatas. Lapangan yang ada hanyalah tanah berpasir, dan kompetisi masih bersifat amatir. Meski begitu, sepak bola tetap menjadi olahraga paling populer di negara itu. Ajang Te Runga, acara olahraga terbesar Kiribati, selalu ramai dengan pertandingan sepak bola yang dimainkan penuh semangat.

Bergabung dengan OFC menjadi satu-satunya jalan bagi Kiribati untuk masuk ke FIFA dan berhak mengikuti kualifikasi Piala Dunia. Saat ini, negara tersebut belum menjadi anggota resmi kedua organisasi tersebut.

Menyelamatkan Identitas Lewat Piala Dunia

Bagi dunia, Piala Dunia adalah turnamen sepak bola paling bergengsi. Namun bagi Kiribati, mimpi berlaga di ajang itu punya arti yang jauh lebih dalam: menjadi bukti eksistensi sebuah bangsa yang berjuang melawan kepunahan. Jika berhasil, langkah Kiribati ke Piala Dunia 2030 bukan sekadar catatan olahraga, melainkan deklarasi bahwa negara mereka masih ada dan pantas didengar.

Reporter: Haris Maulana
Sumber: vietnam.vn This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top