BOGOR — Para pengusaha tempe di sejumlah kecamatan di Kabupaten Bogor mulai merasakan dampak kenaikan harga kedelai dan plastik. Bahan baku utama tempe yang sebelumnya dihargai Rp 12.000 per kilogram, kini melonjak mendekati Rp 15.000 per kilogram di tingkat pengecer. Kenaikan serupa juga terjadi pada kantong plastik kemasan yang harganya naik sekitar 20 persen dalam dua minggu terakhir.
Kenaikan dua komponen utama produksi ini membuat margin keuntungan perajin kian tipis. Seorang pengusaha tempe di Kecamatan Cibinong mengaku terpaksa mengurangi volume produksi hariannya dari 50 kilogram kedelai menjadi hanya 30 kilogram. "Kalau harga jual dinaikkan, pembeli pada kabur. Paling kami kurangi ukuran tempenya sedikit," ujarnya, Selasa (18/2).
Kondisi serupa dikeluhkan perajin di Kecamatan Citeureup dan Gunung Putri. Mereka menyebutkan, harga kedelai impor yang terus merangkak naik dalam tiga bulan terakhir belum pernah turun signifikan. Ditambah harga plastik yang ikut terdongkrak harga minyak dunia, beban pengusaha kecil semakin berat.
Para perajin mendesak pemerintah daerah dan pusat segera mengambil langkah stabilisasi harga kedelai. Salah satu cara yang diusulkan adalah menambah kuota impor kedelai agar pasokan di pasar dalam negeri tidak ketat. "Kami minta pemerintah bergerak, jangan hanya diam. Kalau terus begini, banyak perajin tempe yang gulung tikar," kata seorang pengusaha di Kecamatan Jonggol.
Mereka juga meminta pemkab meninjau ulang distribusi plastik kemasan yang harganya dinilai tidak wajar. Sejumlah perajin mengaku sudah menyampaikan keluhan ini ke Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Bogor, namun belum ada tindak lanjut konkret.
Kenaikan biaya produksi tempe di Kabupaten Bogor mulai terasa di pasar tradisional. Beberapa pedagang tempe di Pasar Cibinong dan Pasar Citeureup mengaku pasokan dari perajin menurun drastis. Akibatnya, harga tempe di lapak-lapak naik Rp 500 hingga Rp 1.000 per bungkus dalam sepekan terakhir.
Jika kondisi ini berlanjut, bukan hanya perajin yang terdampak. Konsumen rumah tangga dan warung makan kecil yang selama ini bergantung pada tempe sebagai lauk murah juga akan merasakan dampaknya. Para pengusaha berharap pemerintah segera turun tangan sebelum krisis ini meluas.