Hilirisasi Nikel Dorong Ekonomi Maluku Utara Tumbuh 34%, Gubernur Dorong UMKM dan Petani Lokal Ikut Menikmati

Penulis: Ivan Setiawan  •  Kamis, 04 Juni 2026 | 21:18:32 WIB
Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda menyampaikan pertumbuhan ekonomi daerah mencapai 34 persen didorong hilirisasi nikel.

JAWA BARAT — Pertumbuhan ekonomi Maluku Utara mencapai 34 persen secara tahunan pada tahun lalu. Pada triwulan I tahun ini, angka tersebut masih tercatat tinggi di level 19,6 persen.

Angka ini disampaikan Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda dalam keterangan yang dikutip dari Antara, Kamis (4/6/2026). Menurutnya, kunci dari lonjakan ini adalah pengembangan industri hilirisasi nikel di kawasan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) di Halmahera Tengah.

Kawasan itu terintegrasi dari pertambangan hingga pengolahan nikel menjadi bahan baku baja nirkarat dan baterai kendaraan listrik. "Hilirisasi telah mengubah perekonomian Maluku Utara secara signifikan," ujar Sherly.

Kontribusi Global dan Target Pasar Lokal

Saat ini, Maluku Utara berkontribusi sekitar seper tujuh produksi nikel global. Daerah ini menjadi bagian penting dalam rantai pasok mineral kritis dunia, terutama untuk industri kendaraan listrik.

Namun, Gubernur Sherly menilai tahap berikutnya harus fokus pada manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. "Tahap berikutnya harus fokus pada manfaat yang lebih luas bagi masyarakat," tuturnya.

Pemerintah provinsi mendorong lebih banyak pelaku UMKM lokal masuk ke rantai pasok industri. Mulai dari katering, logistik, jasa perawatan, jasa penatu, hingga penyediaan alat keselamatan kerja.

Kebutuhan Pangan Rp 1,2 Triliun per Tahun, Baru 20% dari Lokal

Kebutuhan konsumsi pangan di kawasan industri mencapai sekitar Rp 100 miliar per bulan atau Rp 1,2 triliun per tahun. Namun, sebagian besar pasokan masih berasal dari luar daerah.

Saat ini, baru sekitar 20 persen kebutuhan tersebut dipenuhi dari produksi lokal. Karena itu, pemerintah daerah menyiapkan penguatan infrastruktur pertanian dan perikanan untuk meningkatkan kapasitas produksi.

"Harapannya kebutuhan ayam, daging, telur, hingga beras nantinya dapat diproduksi secara lokal," ucap Sherly.

Pendidikan Vokasi untuk Isi Posisi Teknis dan Manajerial

Di sisi sumber daya manusia, pemerintah daerah memperkuat pendidikan vokasi dan politeknik. Tujuannya agar masyarakat lokal bisa mengisi lebih banyak posisi teknis dan manajerial di industri hilirisasi.

Sherly mengatakan pihaknya tengah berdiskusi dengan sejumlah perguruan tinggi, termasuk Institut Pertanian Bogor (IPB), untuk pengembangan pendidikan vokasi di bidang metalurgi, kelistrikan, dan teknik.

Langkah ini diambil agar pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak hanya dinikmati oleh perusahaan, tetapi juga oleh tenaga kerja lokal Maluku Utara.

Reporter: Ivan Setiawan
Sumber: liputan6.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top