JAWA BARAT — Data pukul 09.38 WIB menunjukkan Bank Central Asia (BCA) menawarkan kurs e-Rate beli Rp 17.878 dan jual Rp 17.898 per dolar AS, dengan selisih hanya 20 poin. Namun, untuk transaksi tunai (bank notes) dan TT Counter, spread BCA melebar menjadi Rp 250—dari beli Rp 17.690 ke jual Rp 17.940. Pola serupa terlihat di Bank Mandiri (BMRI) dan Bank Negara Indonesia (BBNI).
Mandiri mencatat kurs TT Counter beli Rp 17.640 dan jual Rp 17.940, sementara BNI memasang beli Rp 17.625 dan jual Rp 17.925 untuk bank notes. Selisih sekitar Rp 300 ini menjadi yang terlebar di antara ketiganya, mengindikasikan biaya transaksi tunai lebih mahal bagi nasabah yang membutuhkan dolar AS secara fisik.
Pelemahan rupiah 0,33% ke Rp 17.864 terjadi saat indeks dolar AS masih perkasa di pasar global. Bank Indonesia sebelumnya menahan suku bunga acuan di 5,75% pada akhir Mei 2026, langkah yang dinilai pasar belum cukup kuat untuk menahan arus keluar modal asing. Kondisi ini membuat bank-bank nasional cenderung konservatif dalam menetapkan kurs jual yang lebih tinggi untuk mengantisipasi volatilitas.
Bagi importir atau perusahaan yang memiliki kewajiban dolar AS dalam waktu dekat, selisih kurs jual di atas Rp 17.900 menjadi beban tambahan. Sebaliknya, eksportir yang hendak menjual dolar AS justru mendapatkan kurs beli di kisaran Rp 17.600–Rp 17.700, tergantung bank dan jenis transaksi.
BCA menyediakan special rate untuk transaksi di atas 25.000 dolar AS (ekivalen) dengan kurs beli Rp 17.865 dan jual Rp 17.895 per dolar. Selisih hanya 30 poin, jauh lebih ketat dibandingkan transaksi ritel. Artinya, nasabah korporasi atau individu dengan kebutuhan valas besar bisa mendapatkan harga lebih kompetitif dengan menghubungi cabang langsung.
Bank Mandiri dan BNI tidak mencantumkan skema khusus serupa dalam data pagi ini. Nasabah kedua bank disarankan melakukan negosiasi kurs untuk transaksi di atas threshold tertentu, mengingat ketentuan Bank Indonesia mewajibkan dokumen underlying untuk setiap transaksi valas.
Bagi investor pasar modal, divergensi antara IHSG yang menguat dan rupiah yang melemah mengindikasikan aliran modal asing masih selektif—masuk ke saham tertentu namun keluar dari pasar obligasi atau instrument derivatif. Pelaku usaha yang memiliki pinjaman dalam dolar AS perlu mengantisipasi potensi kenaikan biaya bunga dan pokok utang jika rupiah terus tertekan.
Sementara itu, masyarakat umum yang berencana bepergian ke luar negeri atau membeli barang impor sebaiknya membandingkan kurs di beberapa bank sebelum bertransaksi. Selisih Rp 250–Rp 300 per dolar AS berarti perbedaan biaya hingga Rp 300.000 untuk setiap pembelian 1.000 dolar AS.
Apakah kurs di bank bisa berubah setiap saat? Ya, kurs indikasi seperti e-Rate dan TT Counter dapat berubah selama jam operasional bank, tergantung pergerakan nilai tukar di pasar antarbank. Nasabah disarankan mengonfirmasi kurs berlaku saat akan melakukan transaksi.
Mengapa kurs jual selalu lebih tinggi dari kurs beli? Selisih (spread) merupakan keuntungan bank dan biaya layanan transaksi valas. Semakin lebar spread, semakin mahal biaya yang harus ditanggung nasabah. Transaksi tunai biasanya memiliki spread lebih lebar dibandingkan transaksi elektronik karena biaya handling fisik.