JAWA BARAT — Berdasarkan data pasar, rupiah melemah 37 poin atau 0,21 persen dibandingkan penutupan sebelumnya. Pelemahan ini tidak berdiri sendiri; hampir seluruh mata uang Asia lainnya turut tertekan. Won Korea Selatan menjadi yang terlemah dengan koreksi 0,71 persen, disusul peso Filipina yang melemah 0,18 persen, dan baht Thailand yang turun 0,17 persen. Mata uang utama negara maju seperti euro dan poundsterling juga kompak berada di zona merah.
Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pergerakan rupiah saat ini masih dalam fase konsolidasi. Dua faktor utama menjadi penahan laju penguatan rupiah: pertama, ketidakpastian soal kesepakatan AS-Iran yang masih limbung; kedua, antisipasi data penting domestik yang akan dirilis besok, yaitu inflasi dan neraca perdagangan.
"Harga minyak yang sudah menurun bisa mendukung rupiah," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com, Senin (1/6). Ia memperkirakan rentang pergerakan rupiah hari ini berada di Rp17.750 hingga Rp17.800 per dolar AS.
Bank Indonesia (BI) mengonfirmasi bahwa tekanan terhadap rupiah juga berasal dari faktor domestik. Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, pada Jumat (29/5) menyebutkan adanya peningkatan kebutuhan valuta asing (valas) secara musiman. Kebutuhan ini terutama untuk pembayaran utang luar negeri (ULN) dan repatriasi dividen, di tengah arus masuk dolar AS yang terbatas.
"Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah masih dipengaruhi oleh berlanjutnya ketidakpastian global akibat perkembangan konflik di Timur Tengah," kata Ramdan. Ia menegaskan BI terus hadir di pasar untuk menjaga stabilitas kurs melalui berbagai instrumen intervensi, baik secara domestik maupun global.
Pelemahan rupiah di atas Rp17.800 per dolar AS menjadi sinyal yang perlu dicermati oleh importir dan perusahaan yang memiliki utang dalam denominasi dolar. Beban pembayaran utang dan biaya impor bahan baku berpotensi meningkat. Sebaliknya, eksportir mendapatkan keuntungan dari nilai tukar yang lebih kompetitif.
Bagi investor pasar keuangan, volatilitas kurs ini biasanya memicu aksi wait and see. Pergerakan rupiah yang masih rentan terhadap sentimen global membuat aliran modal asing ke pasar saham dan obligasi domestik berpotensi terbatas dalam jangka pendek. Pasar kini menunggu data inflasi dan perdagangan besok sebagai indikator arah kebijakan BI selanjutnya.