JAWA BARAT — Pertamina EP tidak hanya fokus pada produksi minyak dan gas bumi. Perusahaan kini mengintegrasikan program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) dengan agenda ketahanan pangan nasional. Inisiatif ini menyasar desa-desa di sekitar area operasi hulu migas, yang selama ini menjadi prioritas pemberdayaan.
Salah satu program unggulan adalah pemanfaatan lahan tidur di wilayah Ring 1 operasi Pertamina EP. Lahan tersebut dikelola bersama kelompok tani setempat untuk ditanami komoditas pangan seperti jagung, cabai, dan padi. Program ini tidak hanya menyediakan sumber pangan alternatif, tetapi juga menciptakan lapangan kerja bagi warga sekitar.
Dari sisi energi, Pertamina EP memastikan pasokan gas dan minyak bumi dari sumur-sumur yang berdekatan dengan area pertanian tersebut tetap berjalan optimal. Perusahaan mengklaim tidak ada gangguan produksi akibat integrasi program ini. "Kami ingin memastikan bahwa setiap tetes minyak dan setiap butir pangan yang dihasilkan membawa manfaat langsung bagi masyarakat," ujar juru bicara Pertamina EP dalam keterangan resmi.
Program ini sudah berjalan di beberapa titik, seperti di Kecamatan Jatibarang, Indramayu, dan Kecamatan Cepu, Blora. Di Indramayu, misalnya, lahan seluas 10 hektare yang sebelumnya tidak produktif kini menjadi sumber penghasilan tambahan bagi 50 kepala keluarga. Hasil panen sebagian dijual ke pasar lokal dan sebagian lagi diolah menjadi bibit untuk musim tanam berikutnya.
Pertamina EP juga menggandeng dinas pertanian setempat untuk memberikan pelatihan teknik budidaya modern. Tujuannya, produktivitas lahan meningkat secara signifikan dalam dua musim tanam ke depan. "Kami tidak hanya memberi ikan, tapi juga kail dan cara memancingnya," kata perwakilan perusahaan menambahkan.
Langkah ini merupakan bagian dari arahan holding Pertamina untuk memperkuat ketahanan pangan di tengah fluktuasi harga pangan global. Pertamina EP menargetkan program serupa dapat diperluas ke 20 desa lain di Sumatera dan Kalimantan pada akhir tahun ini. Jika berhasil, model integrasi energi-pangan ini bisa menjadi cetak biru bagi BUMN lain yang beroperasi di daerah terpencil.
Fakta Singkat:
Dengan integrasi ini, Pertamina EP membuktikan bahwa sektor energi dan pangan tidak harus berjalan sendiri-sendiri. Justru, kolaborasi keduanya bisa menjadi solusi atas dua masalah besar bangsa: krisis energi dan kerawanan pangan.