Transisi Energi Berjalan, Tapi Investasi Hulu Migas dan CCS Diproyeksi Tembus Jauh di Atas US$15 Miliar

Penulis: Gilang Permana  •  Senin, 25 Mei 2026 | 18:27:25 WIB
Investasi hulu migas diproyeksi meningkat signifikan hingga melampaui US$15 miliar pada 2027-2028.

JAWA BARAT — Pemerintah tidak bisa serta-merta meninggalkan energi fosil. Di tengah gencarnya pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT), kebutuhan investasi di sektor hulu minyak dan gas bumi (migas) justru diprediksi semakin besar. Hal ini disampaikan Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional (DEN), Dadan Kusdiana, dalam acara IPA Convex 2026 di Tangerang, Kamis (21/5).

Menurut Dadan, kebijakan energi nasional yang diteken Presiden pada September 2025 lalu memiliki tiga fokus utama: ketahanan energi, transisi energi, dan dekarbonisasi. Ketiganya berjalan beriringan.

“Kita akan tetap menggunakan energi fosil konvensional dan pada saat yang sama mendorong penggunaan energi bersih,” ujar Dadan dalam sesi pleno bertajuk Indonesia in Regional Energy Investment: Where Will the Next Dollar Go?.

Investasi Hulu Migas: dari ENI hingga Andaman

Realisasi investasi energi tahun lalu mencapai US$15 miliar, nyaris sama dengan capaian 2024. Namun, angka itu diperkirakan akan terkoreksi naik drastis. “Pada 2027 dan 2028, nilainya akan jauh lebih besar,” klaim Dadan.

Proyek-proyek besar disebut menjadi penyumbang utama kebutuhan modal tersebut. Dadan menyebut langsung proyek ENI, Blok Masela, dan potensi pengembangan di Andaman. Semua proyek ini membutuhkan pendanaan yang tidak sedikit, mulai dari eksplorasi hingga infrastruktur produksi.

Pernyataan ini diamini oleh Ciro Pagano, Head of Middle East and Far East Region ENI. Ia menegaskan pihaknya terbuka untuk menggelontorkan investasi lebih besar lagi. “Kami mendapat dukungan penuh dari pemerintah dan SKK Migas. Kami ingin berkontribusi nyata pada ketahanan energi Indonesia,” kata Ciro.

CCS: Potensi Besar, Modal Jumbo

Selain hulu migas, pemerintah juga serius menggarap carbon capture and storage (CCS) sebagai bagian dari strategi dekarbonisasi. Indonesia dinilai memiliki potensi besar sebagai lokasi penyimpanan karbon regional.

Untuk memperkuat lini ini, Indonesia sudah menjalin kerja sama dengan sejumlah negara. “Kami memiliki nota kesepahaman yang sangat spesifik dengan Singapura. Bulan lalu, hal yang sama juga dilakukan dengan Korea Selatan dan Jepang,” ungkap Dadan.

Dari sisi pendanaan, Jepang melalui Japan Bank for International Cooperation (JBIC) menyatakan siap mendukung. Tatsushi Amano, Senior Executive Managing Officer JBIC, menjelaskan negaranya mengadopsi pendekatan realistis dalam mencapai netral karbon. “Kami mendukung proyek fosil maupun terbarukan, tergantung kondisi nyata di masing-masing negara,” ujarnya.

Proyeksi Bauran Energi: 70% EBT pada 2060

Dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) yang tengah disusun, pemerintah memproyeksikan bauran energi primer pada 2060 nanti. Porsi energi terbarukan ditargetkan mencapai 70%, gas bumi sekitar 20%, dan minyak hanya 5%.

Meski porsi minyak mengecil, volume absolutnya masih tinggi. Berdasarkan data IEA dan IRENA, kebutuhan minyak Indonesia diperkirakan masih mencapai 2 juta barel per hari pada 2030 dan sekitar 1 juta barel per hari pada 2060. Artinya, investasi di hulu migas tetap krusial untuk mengisi kebutuhan tersebut selama masa transisi.

Dengan kata lain, transisi energi bukan berarti menghentikan investasi fosil. Justru sebaliknya, kebutuhan modal untuk proyek migas dan CCS akan berjalan beriringan demi menjaga pasokan energi nasional tetap aman.

Reporter: Gilang Permana
Sumber: dunia-energi.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top