JAWA BARAT — Pasar emas global mengalami tekanan signifikan setelah data inflasi konsumen Amerika Serikat dirilis. Angka 3,8% merupakan tingkat tertinggi sejak Mei 2023, terutama didorong lonjakan biaya energi terkait konflik Timur Tengah. Situasi ini membuat investor mengubah ekspektasi mereka terkait kebijakan moneter the Fed, yang sebelumnya dianggap akan menurunkan suku bunga dalam waktu dekat.
Menurut data trading economics.com, harga emas dunia turun 0,27% menjadi USD 4.702,40 per ounce. Penurunan ini terjadi meski sejumlah faktor risiko geopolitik masih mengintai, termasuk ketegangan AS-Iran yang sedang dalam upaya diplomatik untuk diselesaikan.
PT Aneka Tambang mencatat penurunan harga emas 24 karat sebesar Rp 20 ribu per gram, dari Rp 2.859 ribu menjadi Rp 2.839 ribu per gram. Sejalan dengan penjualan, harga buyback emas Antam (harga saat pembeli akan menjual kembali emas ke Antam) juga turun Rp 20 ribu menjadi Rp 2.656 ribu per gram.
Dinamika berbeda terlihat di Pegadaian. Ketiga jenis emas pilihan mereka — UBS, Antam, dan Galeri24 — semuanya mengalami kenaikan. Harga UBS naik menjadi Rp 2.887 ribu per gram (dari Rp 2.862 ribu sebelumnya), emas Antam melalui Sahabat Pegadaian naik ke Rp 2.960 ribu (dari Rp 2.918 ribu), dan Galeri24 naik menjadi Rp 2.836 ribu (dari Rp 2.814 ribu sebelumnya).
PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) menetapkan harga emas 1 gram di Rp 2.733 ribu per gram, lebih rendah dibanding Antam dan Pegadaian. Perbedaan harga di antara ketiga pemain utama ini mencerminkan strategi penetapan harga dan margin keuntungan masing-masing pemain.
Variasi harga lintas distributor memberi ruang kepada pembeli untuk memilih. Untuk pembelian 10 gram, misalnya, konsumen bisa membeli di Antam dengan harga Rp 28.885 juta, Pegadaian (emas UBS) Rp 28.163 juta, atau HRTA Rp 26.920 juta — selisih hingga Rp 1.965 juta dalam satu transaksi.
Perbedaan yang lebih besar terlihat pada pembelian skala besar. Untuk 500 gram emas, Pegadaian (UBS) mematok Rp 1.399.903 juta sementara Antam Rp 1.389.820 juta dan HRTA Rp 1.334.500 juta. Perbedaan mencapai Rp 65 juta untuk pembelian setara investasi bertahun-tahun.
Meskipun berfluktuasi, harga emas domestik masih jauh dari puncaknya. PT Aneka Tambang mencatatkan rekor tertinggi sepanjang sejarah pada 29 Januari 2026 lalu, ketika harga mencapai Rp 3.168 ribu per gram dengan harga buyback Rp 2.989 ribu per gram. Ini berarti harga saat ini turun sekira Rp 329 ribu (10,4%) dari level tertinggi tersebut.
Dinamika harga emas akan terus dipengaruhi perkembangan ekonomi makro global, terutama kebijakan the Fed dan perkembangan inflasi AS. Sementara itu, India baru-baru ini menaikkan tarif impor emas dan perak untuk mengendalikan outflow mata uang dan melindungi nilai rupiah-nya. Langkah serupa mungkin menjadi pertimbangan Bank Indonesia kedepannya.