GARUT — Iring-iringan budaya yang membawa simbol sejarah Pajajaran melintasi wilayah Garut pada pukul 18.30 WIB dengan titik keberangkatan dari Korem 062 Tarumanagara. Prosesi ini merupakan bagian dari napak tilas sejarah yang menghubungkan kembali memori kolektif masyarakat terhadap kejayaan masa lalu di tanah Pasundan.
Mahkota Binokasih Sanghyang Pake yang menjadi pusat perhatian dalam kirab ini memiliki bobot sekitar 8 kilogram. Terbuat dari emas murni dengan hiasan ornamen batu giok, benda pusaka ini bukan sekadar perhiasan megah, melainkan membawa pesan filosofis mendalam tentang kepemimpinan.
Secara historis, mahkota ini melambangkan prinsip pemimpin yang mengedepankan rasa kasih sayang kepada rakyatnya. Kehadirannya di ruang publik melalui kirab budaya memberikan kesempatan bagi warga untuk melihat langsung bukti fisik peradaban Sunda yang selama ini lebih banyak dikenal melalui literatur sejarah.
Selain nilai sejarah dari mahkota tersebut, daya tarik kirab ini juga terletak pada kehadiran Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Berdasarkan pantauan di lapangan, banyak warga yang bertahan di tengah cuaca gerimis hanya untuk menyapa atau melihat langsung pemimpin daerah yang dikenal konsisten dalam pelestarian budaya tersebut.
Harapan masyarakat untuk berinteraksi langsung dengan pemimpinnya terlihat dari kerumunan yang tetap terjaga di sepanjang rute kirab. Bagi sebagian warga, kehadiran sosok gubernur dalam acara adat seperti ini memperkuat kedekatan emosional antara rakyat dengan pimpinan daerahnya.
Salah seorang warga Kelurahan Ciwalen, NT (55), mengungkapkan rasa bangganya terhadap penyelenggaraan acara ini di wilayahnya.
“Sebagai orang Sunda, saya sangat kagum dan terharu. Kehadiran Mahkota Binokasih di Garut menjadi bukti bahwa Tatar Sunda pernah memiliki masa kejayaan,” ujar NT saat ditemui di lokasi kirab.
Ia juga menyelipkan harapan pribadi untuk bisa bertemu langsung dengan orang nomor satu di Jawa Barat tersebut. “Saya ingin sekali berjabat tangan dengan beliau,” tambahnya.
Perhelatan Milangkala Tatar Sunda 2026 ini tidak dimulai secara acak. Rangkaian kegiatan bermula dari Sumedang, wilayah yang memiliki ikatan sejarah kuat dengan Kasultanan Sumedang Larang sebagai penerus legitimasi Kerajaan Padjajaran.
Kirab ini dirancang sebagai jembatan penghubung antarwilayah di Jawa Barat untuk memperkuat identitas budaya lokal. Melalui perjalanan mahkota dari satu daerah ke daerah lain, pemerintah provinsi berupaya menghidupkan kembali nilai-nilai luhur sejarah agar tetap relevan bagi generasi masa kini.