CIREBON — Idarah Wustha Jam'iyyah Ahlith Thariqah al-Mu'tabarah an-Nahdliyyah (JATMAN) Jawa Barat menggelar sidang pleno pengurus lengkap untuk menentukan nakhoda baru. Dalam pertemuan yang berlangsung di Pesantren Babakan Ciwaringin tersebut, KH Zamzami Amin terpilih menggantikan KH Sarkosi Subki sebagai Rais Idarah Wustha JATMAN Jabar.
Acara yang berlangsung khidmat ini dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, di antaranya Mudir ‘Ali JATMAN Prof. KH. Ali Masykur Musa dan Wakil Ketua Umum MUI KH. Marsudi Syuhud. Tercatat perwakilan dari 27 Idarah Syu’biyyah JATMAN dari seluruh wilayah Jawa Barat hadir memberikan suara dan mengawal proses suksesi kepemimpinan tersebut.
Bupati Cirebon, Imron Rosyadi, yang hadir dalam acara tersebut memberikan apresiasi atas pelantikan 14 Idarah Ghusniyyah atau pengurus tingkat kecamatan se-Kabupaten Cirebon. Ia berharap kepengurusan yang baru dapat memberikan dampak sosial yang nyata bagi masyarakat, khususnya dalam membentengi generasi muda.
“Saya mengajak untuk memanfaatkan pendopo untuk kegiatan Halaqah JATMAN. Hal ini, saya berharap agar JATMAN terus ikut membantu generasi muda yang saat ini cenderung hobi narkoba,” ujar Imron di hadapan para hadirin.
Imron menilai, syiar tarekat memiliki peran strategis dalam menjaga moralitas bangsa. Dengan membuka pintu Pendopo Kabupaten untuk kegiatan keagamaan, ia ingin sinergi antara ulama dan pemerintah daerah semakin kuat dalam menekan angka kriminalitas dan penyalahgunaan obat-obatan terlarang.
Dalam sesi tausiyah, KH. Marsudi Syuhud menekankan pentingnya peran budaya lokal dalam menjaga stabilitas nasional. Ia menyebutkan bahwa kemampuan bangsa Indonesia dalam mengelola konflik seringkali membuat pengamat internasional terheran-heran karena masalah yang rumit bisa diselesaikan dengan cara yang nyaman.
“Orang luar negeri Syekh Karim heran, bangsa Indonesia bisa membuat perekat walaupun urusannya ruwet, tapi bisa selesai dan nyaman lagi. Tetapi di luar negeri kok susah?” ungkap Kiai Marsudi.
Menurutnya, kuncinya terletak pada budaya ittishal baina al-nas atau ketersambungan antarmanusia yang dirawat melalui tradisi Nahdliyyin. Budaya kumpul-kumpul seperti tahlilan, walimahan, hingga halal bi halal menjadi benteng agar masyarakat tidak mudah diadu domba meski memiliki banyak organisasi yang berbeda.
Ketua PWNU Jawa Barat, KH. Juhadi Muhammad, mengingatkan bahwa agenda pelantikan ini merupakan bagian dari penguatan organisasi menjelang hajatan besar. Ia menegaskan dukungan penuh PWNU terhadap program-program yang dijalankan oleh Idarah Wustha JATMAN Jawa Barat.
“Alhamdulillah, JATMAN terus eksis dan bisa berjalan melaksanakan program-program. PWNU Jawa Barat akan terus men-suport apa yang dilakukan Idarah Wustha JATMAN Jawa Barat,” kata Kiai Juhadi.
Ia juga memaparkan jadwal penting organisasi dalam waktu dekat. Nahdlatul Ulama dijadwalkan melaksanakan Muktamar pada Agustus 2026, yang kemudian akan diikuti oleh Konferensi Wilayah (Konferwil) PWNU Jabar pada Oktober 2026 mendatang.