FamilyMart bekerja sama dengan Bookoff Group Holdings memasang kotak pengumpulan pakaian bekas di 30 gerai wilayah Tokyo untuk menekan limbah tekstil. Program uji coba ini menargetkan pengurangan 560.000 ton sampah pakaian tahunan di Jepang sekaligus memperluas pasar barang bekas hingga ke Malaysia.
Raksasa minimarket FamilyMart memulai langkah ambisius dalam mendukung ekonomi sirkular dengan menyediakan fasilitas pengumpulan pakaian dan barang rumah tangga bekas. Pilot project ini menyasar kawasan residensial di Tokyo sebagai titik awal sebelum potensi ekspansi ke wilayah yang lebih luas.
Langkah strategis ini diambil untuk merespons tingginya angka pembuangan tekstil di Jepang. Data industri menunjukkan sekitar 560.000 ton pakaian dibuang setiap tahunnya di Negeri Sakura. Angka tersebut setara dengan 70 persen dari total pasokan pakaian baru yang masuk ke pasar domestik.
Dalam menjalankan inisiatif ini, FamilyMart menggandeng Bookoff Group Holdings, perusahaan yang spesifik bergerak di bidang jual-beli barang bekas. Penempatan kotak koleksi di 30 gerai Tokyo memudahkan konsumen memberikan "nyawa kedua" bagi pakaian yang sudah tidak terpakai namun masih layak guna.
Mekanisme pengelolaan barang yang terkumpul dibagi menjadi dua jalur utama:
Proyek pengumpulan pakaian ini sebenarnya merupakan pengembangan dari program food drive yang sudah lebih dulu berjalan. Hingga saat ini, FamilyMart telah menerapkan sistem donasi makanan di sekitar 4.900 gerai dari total 16.400 toko mereka di seluruh Jepang.
Sistem tersebut memungkinkan pelanggan menyumbangkan kelebihan stok makanan rumah tangga untuk disalurkan kepada pihak yang membutuhkan. Keberhasilan program pangan inilah yang memicu perusahaan untuk mereplikasi model serupa pada sektor sandang yang memiliki jejak karbon lebih besar.
Tren ritel berkelanjutan seperti yang dilakukan FamilyMart Jepang memiliki relevansi kuat dengan pasar Indonesia. Mengingat populasi yang besar dan meningkatnya kesadaran lingkungan di kalangan Gen Z dan Milenial, konsep drop-box pakaian bekas di minimarket bisa menjadi solusi praktis limbah fashion lokal.
Beberapa poin yang membuat konsep ini menarik jika dibawa ke ekosistem Indonesia antara lain:
Inisiatif FamilyMart ini membuktikan bahwa toko kelontong modern bukan lagi sekadar tempat transaksi jual-beli. Transformasi fungsi gerai menjadi titik pengumpulan limbah sirkular menunjukkan pergeseran peran ritel dalam menghadapi tantangan krisis iklim global.