Pemerintah China secara konsisten menggunakan metafora "tarian naga dan gajah" untuk membingkai hubungan diplomatik dan ekonomi dengan India. Strategi komunikasi ini bertujuan meredam persaingan geopolitik di kawasan Asia dengan memposisikan kedua negara sebagai mitra pembangunan, meski New Delhi masih menunjukkan sikap skeptis.
Mantan Perdana Menteri China, Wen Jiabao, meresmikan penggunaan istilah "tarian naga dan gajah" pada Desember 2010 dalam kunjungan kenegaraan ke New Delhi. Saat itu, Wen menyatakan bahwa kedua negara harus bersinergi dalam sebuah harmoni. Pernyataan tersebut secara resmi memasukkan analogi hewan ke dalam leksikon diplomasi Tiongkok hingga hari ini.
Analogi ini sebenarnya sudah lama beredar di kalangan akademisi dan media Barat sebagai kerangka perbandingan kekuatan. Beijing kemudian mengadopsinya sebagai alat komunikasi politik yang rutin dimunculkan media pemerintah setiap kali terjadi ketegangan di perbatasan. Pola ini berulang secara reguler selama 15 tahun terakhir sebagai upaya stabilisasi hubungan.
Para analis di Beijing berpendapat bahwa frasa ini menekankan posisi kedua negara sebagai mitra pembangunan, bukan rival. Penggunaan simbol naga untuk China dan gajah untuk India dianggap sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan peradaban besar masing-masing. Beijing ingin mengirimkan sinyal bahwa Asia cukup luas untuk menampung ambisi kedua raksasa tersebut.
Namun, penggunaan bahasa diplomatik ini tidak pernah bersifat netral. Seorang mantan duta besar menyatakan bahwa mengadopsi kerangka berpikir pihak lain berarti memberikan legitimasi parsial terhadap pandangan dunia mereka. Hal inilah yang membuat India cenderung berhati-hati dalam menanggapi narasi puitis yang ditawarkan oleh pihak China.
India sejauh ini menolak untuk ikut serta dalam "tarian" retoris yang ditawarkan Beijing. Pakar kebijakan luar negeri di New Delhi menilai keengganan ini mencerminkan pandangan India yang lebih realistis. Bagi mereka, hubungan bilateral lebih banyak dibentuk oleh sejarah konfrontasi militer dan ketidakpercayaan yang terakumulasi daripada sekadar simbolisme.
Ketegangan di perbatasan Himalaya yang kerap memanas menjadi bukti bahwa metafora hewan tidak cukup kuat meredam gesekan di lapangan. India lebih memilih fokus pada penyelesaian sengketa wilayah secara konkret. New Delhi memandang tawaran kerja sama "naga dan gajah" sering kali tidak sejalan dengan aksi provokasi di garis batas negara.
Stabilitas hubungan antara China dan India memiliki pengaruh signifikan terhadap stabilitas ekonomi di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Sebagai dua kekuatan ekonomi dengan pertumbuhan tercepat, persaingan atau kolaborasi mereka menentukan arah rantai pasok global. Indonesia, sebagai pemimpin ASEAN, berkepentingan agar persaingan ini tidak berubah menjadi konflik terbuka.
Jika narasi kemitraan ini berhasil diwujudkan, integrasi ekonomi di Asia diprediksi akan semakin kuat. Sebaliknya, jika India terus menolak kerangka kerja yang ditawarkan China, blok-blok kekuatan baru kemungkinan besar akan terus bermunculan. Hal ini menuntut negara-negara di kawasan untuk lebih lihai dalam melakukan navigasi diplomatik di antara kedua raksasa tersebut.
Hingga saat ini, "tarian naga dan gajah" masih menjadi visi sepihak yang terus dipromosikan oleh Beijing. Tanpa adanya langkah nyata untuk membangun kepercayaan di perbatasan, analogi ini hanya akan menjadi catatan kaki dalam sejarah diplomasi Asia. New Delhi tampaknya masih menunggu bukti komitmen yang lebih konkret daripada sekadar permainan kata-kata puitis.