Cimahi — Di ruangan sederhana berukuran 2,8 hektar di Kecamatan Cimahi Tengah, canting panas menari di atas kain putih, meninggalkan jejak motif batik yang harum khas. Para penyandang disabilitas dengan telaten menggambar setiap garis dan warna, mengubah bahan mentah menjadi karya seni yang bernilai jual tinggi.
Inisiatif ini berawal dari UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel, yang kini berkembang menjadi Kampung Kreatif Batik Difabel. Sejak 2021, lembaga ini telah membina lebih dari 120 peserta dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Barat, tidak hanya mengajarkan membatik tetapi juga menjahit, kerajinan tangan, dan keterampilan jasa lainnya.
Pencapaian paling membanggakan adalah produk batik yang telah menembus pasar internasional. Karya-karya yang lahir dari tangan-tangan terampil ini pernah menjadi suvenir ke Italia, membuktikan bahwa kualitas dan desain produk bersaing di tingkat global. Setiap tahunnya, sekitar 100 orang mengikuti pelatihan kemandirian yang dimulai pada Januari dan berlanjut hingga pertengahan tahun.
Kapasitas produksi Kampung Kreatif Batik Difabel mencapai 100 potong kain per bulan dengan ukuran rata-rata 2 meter. Harga jual berkisar Rp300.000 hingga Rp350.000 per potong, sementara pesanan khusus dapat mencapai Rp600.000. Nurdin (35) dari Cianjur, pembatik senior yang telah berkarya selama enam tahun, menjelaskan detail prosesnya: "Semua harus teliti karena setiap motif punya tingkat kesulitan berbeda."
Meski produk rutin mengikuti pameran dan mulai dikenal luas, tantangan terbesar tetap berada pada sektor pemasaran. Nurdin mengakui bahwa ada masa-masa sepi penjualan. "Kadang ada masa sepi. Karena itu, kami berharap ada dukungan untuk promosi dan pengembangan usaha," ujarnya.
Bagi para penyandang disabilitas, batik bukan sekadar produk komersial. Saepudin (27) dari Garut, yang mengalami keterbatasan bicara, menemukan ruang ekspresi melalui karya batiknya. Demikian pula Zaenlani (26) dari Cirebon, yang sejak 2017 mengalami kecelakaan dan kini menekuni batik kontemporer dengan penuh dedikasi.
Kepala UPTD Griya Harapan Difabel, Andina Rahayu (45), menegaskan visi lebih besar untuk kawasan ini. "Kami ingin tempat ini dikenal lebih luas sebagai destinasi wisata edukasi. Jadi masyarakat bukan hanya membeli batik, tetapi juga bisa melihat langsung proses membatik dan memahami makna di balik setiap motif," ujarnya.
Program pelatihan digital marketing yang didukung oleh CSR perbankan seperti BRI telah membantu membuka wawasan baru bagi para pengrajin. Namun, infrastruktur seperti fasilitas produksi, ruang pameran, dan promosi digital masih memerlukan penguatan signifikan untuk meningkatkan jangkauan pasar.
Andina berharap dukungan berkelanjutan dari berbagai pihak. "Kalau fasilitas dan promosinya semakin baik, dampaknya juga akan besar untuk teman-teman difabel di sini. Mereka punya kemampuan dan karya yang layak diapresiasi," katanya. Dengan momentum ini, Kampung Kreatif Batik Difabel berpotensi menjadi ikon wisata inklusif Jawa Barat sekaligus model pemberdayaan ekonomi kreatif yang inklusif.