JAWA BARAT — Pengabaian emosional pada anak terjadi ketika kebutuhan untuk didengar dan dipahami tidak terpenuhi secara konsisten. Kenali 6 tandanya, mulai dari hukuman saat anak marah hingga orang tua yang hanya fokus pada prestasi, agar ibu bisa lebih peka terhadap perasaan si kecil setiap hari.
Daniel Rinaldi, pakar kesehatan mental, menyebut pengabaian emosional sebagai bentuk trauma karena dampaknya bisa panjang dan mendalam pada kesejahteraan psikologis seseorang. Sayangnya, banyak orang tua melakukannya tanpa sadar.
Terapis Yolanda Renteria menjelaskan dua alasan utamanya. Sebagian orang tua merasa tidak nyaman dengan emosi secara umum dan bingung menanggapi perasaan kompleks anak. Sebagian lain terlalu kewalahan dengan stres pekerjaan, urusan rumah tangga, dan kesehatan mentalnya sendiri.
1. Menghukum Anak Saat Marah atau Sedih
Anak yang diminta diam ketika marah, atau ditegur karena menangis, belajar bahwa emosi negatif itu salah. Padahal kesedihan dan frustrasi adalah bagian normal dari tumbuh kembang. Menghukum ekspresi emosi justru membuat anak menutup diri.
2. Tidak Ikut Senang Saat Anak Bahagia
Ketika anak bersemangat bercerita soal prestasi kecilnya, respons dingin atau negatif membuatnya merasa tidak layak dirayakan. Padahal pengakuan atas emosi positif sama pentingnya dengan menenangkan anak saat sedih.
3. Meremehkan Perasaan Anak
Kalimat seperti "Kamu terlalu sensitif", "Berhenti bersikap seperti bayi", atau "Jangan khawatir soal itu" terdengar sepele. Efeknya besar: anak diberi tahu bahwa perasaannya tidak valid dan tidak layak dibicarakan.
4. Melewatkan Emosi Sulit Anak
Anak yang kehilangan hewan peliharaan atau jadi korban perundungan butuh pengakuan atas sedih dan malunya. Sering kali orang tua melewatkan momen ini karena kesulitan mengenali emosi tersebut pada diri sendiri.
5. Hadir Fisik, Tapi Tidak Emosional
Orang tua bisa ada di rumah sepanjang hari namun tidak benar-benar hadir untuk anak. Anak merasakan ketidakhadiran itu terutama saat sedang kesulitan dan butuh sandaran.
6. Hanya Berorientasi pada Prestasi
Fokus berlebihan pada nilai dan juara membuat orang tua melewatkan hal yang membuat anak bahagia. Anak belajar bahwa dirinya dihargai hanya saat unggul, bukan saat menjadi dirinya sendiri.
Dampak Jangka Panjang yang Perlu Diwaspadai
Terapis keluarga Aurisha Smolarski menyebut trauma akibat penelantaran emosional dapat mengubah cara kerja otak dan sistem saraf. Anak bisa kesulitan mengekspresikan emosi, merasa rendah diri, hingga sulit membentuk hubungan.
Jika berlanjut, dampaknya bisa berupa masalah perilaku di rumah dan sekolah, penyalahgunaan zat, perilaku berisiko, hingga depresi, kecemasan, dan PTSD di kemudian hari.
Kapan Perlu Mencari Bantuan
Bila ibu merasa sulit menenangkan diri saat anak meluapkan emosi, atau mendapati anak menarik diri dan enggan bercerita, konsultasi dengan psikolog anak bisa membantu. Mengenali pola pengasuhan sendiri adalah langkah pertama yang penting.
Enam tanda di atas bukan untuk menghakimi diri, melainkan bahan refleksi. Mulai dari satu perubahan kecil: mendengarkan perasaan anak tanpa langsung menilai.