JAWA BARAT — Australia membantai Inggris 78-0 pada laga kedua Grup A Piala Dunia Rugby Liga Wanita di Perth, dengan 14 try tanpa balasan. Kekalahan ini memperlihatkan jarak Inggris dengan sang juara bertahan belum menyusut sejak kekalahan 90-4 di Las Vegas pada Maret 2025.
Australia sudah unggul 36-0 saat turun minum. Inggris bahkan terkena penalti satu detik setelah kick-off karena Lucy Murray berada dua yard offside, dan sejak itu pertandingan berjalan satu arah.
Playmaker New South Wales itu mencetak dua try dan sembilan konversi. Menariknya, Kelleher memenuhi syarat membela Inggris lewat garis keturunan ibunya, tetapi ia justru tampil tanpa ampun melawan tanah leluhurnya.
Kelleher membuka skor lewat umpan tinggi yang disambut Jaime Chapman pada menit ketujuh. Ia lalu menambah try keduanya setelah menerobos dua tekel, sebelum mengirim tendangan konversi melengkung yang membuat Australia memimpin jauh.
Australia menambah delapan try lagi setelah jeda. Olivia Kernick melewati tiga pemain Inggris yang nyaris tak melakukan tekel, Quincy Dodd memaksa masuk di bawah mistar, dan Shaylee Bent menutup pesta dengan try ke-14.
Chapman, Kelleher, Abbi Church, dan Isabelle Kelly masing-masing mencetak dua try. Julia Robinson, Tarryn Aitken, Kernick, Dodd, Makenzie Weale, Tiana Penitani Gray, dan Bent melengkapi daftar pencetak skor.
Second row Eva Hunter keluar lapangan karena cedera pergelangan kaki di babak pertama. Inggris juga sudah kehilangan Jasmin Strange yang mengalami cedera lutut serius saat latihan dan hanya bisa menonton dari pinggir lapangan dengan kruk.
Fran Goldthorp, pemain terbaik Inggris malam itu, tetap bertahan meski mendapat pukulan keras di pergelangan tangannya. Hanya enam pemain dari skuad ini yang ikut dalam kekalahan di Las Vegas, tetapi kualitas permainan nyaris tak berubah.
Inggris masih punya peluang lolos. Tiket ke babak berikutnya akan ditentukan pada laga melawan Samoa Jumat depan, dan Inggris wajib tampil jauh lebih baik dari pertandingan ini.
Australia sendiri belum menunjukkan tanda perlambatan. Sebagai tuan rumah bersama dan juara bertahan, Jillaroos memperlihatkan bahwa mereka masih berada di level berbeda dari Inggris.