Musorprov KONI Jabar 2026: Bukan Sekadar Pilih Ketua, Ini 5 Kontrak Moral yang Harus Ditagih Calon Pemimpin

Penulis: Feri Andika  •  Rabu, 09 September 2026 | 08:31:31 WIB
Calon ketua KONI Jabar periode 2026-2030 dinilai perlu memprioritaskan pembangunan sistem pengelolaan olahraga, bukan sekadar perebutan kursi kepemimpinan.
Hukum Olahraga Eka Nopie Sagita, momen ini seharusnya menentukan sistem pengelolaan olahraga Jabar hingga 2030, bukan sekadar memilih pemimpin. ISI:

BANDUNG — Kontestasi menuju Musorprov KONI Jawa Barat 2026 kian memanas. Nama-nama calon bermunculan, dukungan dari cabang olahraga (cabor) dan KONI kabupaten/kota mulai dihitung, komunikasi politik pun makin intensif.

Di tengah hiruk-pikuk politik organisasi, Eka Nopie Sagita mengingatkan hal yang lebih fundamental. Jangan sampai perebutan kursi nomor satu mengaburkan persoalan sistem.

"Musorprov adalah momentum menentukan sistem seperti apa yang akan mengelola olahraga Jawa Barat sampai 2030," ujarnya dalam keterangan yang diterima redaksi.

Pergeseran Paradigma: Bukan Lagi "Siapa Ketua?"

Perdebatan jelang Musorprov biasanya mudah terjebak pada calon terkuat, jaringan terluas, atau akses terbaik ke pemerintah. Realitas politik organisasi memang demikian.

Namun, Jawa Barat terlalu besar jika masa depannya ditentukan hanya oleh kalkulasi dukungan empat tahunan. Diperlukan pergeseran paradigma: dari politik siapa yang menang menjadi politik gagasan tentang apa yang harus dikerjakan setelah menang.

Seorang ketua umum pada akhirnya tidak dinilai dari banyaknya dukungan saat Musorprov. Ia dinilai dari kemampuannya mengubah dukungan itu menjadi prestasi, tata kelola, dan kesejahteraan insan olahraga.

Target Naik Kelas: Membangun Sistem Juara

Jawa Barat memiliki modal besar untuk menjadi laboratorium olahraga nasional. Prestasi, jumlah penduduk, basis atlet, perguruan tinggi, hingga kekuatan industri dan infrastruktur adalah aset yang tersedia.

Karena itu, target KONI Jabar tidak boleh berhenti pada mempertahankan juara. Targetnya harus dinaikkan: membangun sistem yang secara konsisten melahirkan juara.

"Menjadi juara adalah hasil. Membangun sistem juara adalah warisan," tegas Eka Nopie Sagita.

1. KONI Berbasis Data Terintegrasi

Era olahraga modern tidak bisa dikelola hanya dengan intuisi. Jawa Barat membutuhkan integrated sports data system yang memuat pemetaan atlet, pelatih, prestasi, usia, hingga proyeksi prestasi.

Dengan data yang baik, KONI bisa mengetahui bukan hanya siapa yang juara hari ini. Ia bisa melihat siapa yang berpotensi menjadi juara lima atau sepuluh tahun mendatang.

2. Sport Science Menjadi Sistem, Bukan Slogan

Prestasi olahraga dunia dibangun melalui ilmu. Nutrisi, psikologi olahraga, fisiologi, biomekanika, hingga manajemen beban atlet harus menjadi bagian tak terpisahkan dari pembinaan.

Jawa Barat perlu membangun pusat keunggulan olahraga yang mempertemukan atlet, pelatih, akademisi, dokter, dan ilmuwan olahraga. "Kita harus menciptakan lingkungan yang membuat bakat tersebut menjadi prestasi," katanya.

3. Kesejahteraan Atlet dan Pelatih Jadi Prioritas

Atlet adalah manusia yang mengorbankan waktu, pendidikan, dan masa mudanya untuk membawa nama daerah. Sistem pembinaan harus memikirkan atlet secara utuh: pendidikan, kesehatan, karier, hingga masa depan pasca-pensiun.

Hal yang sama berlaku bagi pelatih. Mustahil menuntut prestasi kelas dunia dengan sistem penghargaan dan perlindungan yang tidak memadai.

4. Tata Kelola Transparan dan Akuntabel

KONI Jawa Barat harus menjadi contoh organisasi olahraga yang transparan dan profesional. Anggaran harus dapat dipertanggungjawabkan, program memiliki indikator kinerja, dan keputusan memiliki dasar yang jelas.

Potensi konflik kepentingan harus dikelola. Setiap persoalan organisasi wajib diselesaikan berdasarkan AD/ART dan ketentuan hukum yang berlaku.

Prestasi dan tata kelola bukan dua hal yang bertentangan. Organisasi yang sehat justru akan lebih mampu menghasilkan prestasi berkelanjutan.

5. Kemandirian Ekonomi Olahraga

Agenda kelima yang tak kalah penting adalah membangun kemandirian ekonomi. Ketergantungan pada anggaran pemerintah disebutnya tidak akan cukup untuk membiayai pembinaan jangka panjang.

Lima agenda ini dinilai layak menjadi kontrak moral bagi siapapun yang akan memimpin KONI Jabar hingga 2030.

Reporter: Feri Andika
Sumber: terasjabar.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top