JAWA BARAT — Jaecoo J5 EV baru saja meluncur di Malaysia dengan harga RM118.800 OTR tanpa asuransi. Jika dikonversi, angkanya menyentuh Rp 518 juta — lebih mahal 67 persen dibandingkan varian Premium di Indonesia yang dipatok Rp 309,9 juta OTR Jakarta.
Perbedaan mencolok ini langsung memicu pertanyaan: apa yang sebenarnya dibeli konsumen di masing-masing negara? Ternyata, bukan cuma banderol yang berbeda.
Jaecoo J5 EV Malaysia memakai baterai 58,9 kWh LFP dari CATL. Thailand mendapat yang lebih kecil, 50,6 kWh. Sementara Indonesia justru dibekali paket terbesar, 60,9 kWh.
Ketiga negara menggunakan pemasok baterai berbeda. Artinya, harga murah di Indonesia tidak datang dari pengurangan kapasitas energi — justru sebaliknya.
Bahan yang tersedia tidak merinci komponen biaya seperti pajak, insentif, atau ongkos produksi di tiap pasar. Yang pasti, jarak harga Rp 208 juta bukan angka kecil untuk segmen EV kompak.
Di Malaysia, J5 EV bersaing di kelas yang lebih tinggi secara harga. Di Indonesia, posisinya jauh lebih agresif dan berpotensi mengganggu pemain lain di rentang Rp 300 jutaan.
Konsumen Indonesia mendapat baterai terbesar dengan harga terendah di antara tiga negara. Namun perlu dicatat, spesifikasi pengisian daya, fitur keselamatan, dan kelengkapan standar antar varian belum bisa dibandingkan dari data yang ada.
Untuk pasar domestik, angka Rp 309,9 juta membuat J5 EV masuk kategori EV entry-level yang kompetitif. Tapi keputusan pembelian sebaiknya menunggu hasil uji daya tempuh riil dan ketersediaan jaringan servis, bukan sekadar melihat kapasitas baterai di atas kertas.