BOGOR — Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim membeberkan sejumlah rencana strategis penataan kota yang berpusat di kawasan Stasiun Bogor saat memimpin apel di Kantor Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperumkim) Kota Bogor, Senin (31/8/2026). Rencana ini tak hanya menyentuh wajah kota, tetapi juga skema besar integrasi transportasi hingga penataan jalur hijau dan trotoar di tingkat kelurahan.
Pemkot Bogor bersama PT Kereta Api Indonesia (KAI) dijadwalkan menandatangani nota kesepahaman atau MoU untuk menata kawasan seluas area Jalan MA Salmun, Mayor Oking, Kapten Muslihat, Alun-alun, Dewi Sartika, hingga Nyi Raja Permas. Pelaksanaan proyek fisiknya baru dimulai pada 2027.
Integrasi perencanaan ini melibatkan tiga pihak: Pemkot Bogor, PT KAI, dan Balai Besar Teknik Perkeretaapian Jawa Barat. Targetnya jelas, menjadikan Stasiun Bogor sebagai hub utama perkeretaapian.
“Penumpang kereta ke Bogor di akhir pekan (Sabtu-Minggu) mencapai rata-rata 163.000 penumpang. Ini catatan rekor pertama dalam sejarah. Maka diperlukan juga tata kelola yang baik agar tingginya jumlah wisatawan memberikan dampak ekonomi yang optimal bagi kota,” ungkap Dedie dalam keterangannya.
Skema besar ini mencakup pengembangan jalur kereta Sukabumi–Cianjur–Padalarang via Stasiun Paledang serta perpanjangan relasi Commuter Line hingga Cigombong. Jika interkoneksi terealisasi, kereta jarak jauh dengan titik keberangkatan dari Jakarta bisa mulai dari Stasiun Bogor atau Paledang.
Konsekuensinya, Jalan Dewi Sartika bakal disiapkan menjadi jalur protokol utama Kota Bogor. Dengan begitu, event-event yang membutuhkan rekayasa lalu lintas tak lagi mengganggu mobilitas kendaraan secara masif.
Untuk mendukung penataan tersebut, Pemkot Bogor memindahkan pedagang kaki lima dari Jalan Dewi Sartika ke kawasan Jalan Nyi Raja Permas. Selain itu, penutupan lintasan sebidang kereta api di Jalan MA Salmun akan dilakukan bertahap mulai tahun ini hingga tahun depan.
Dedie juga meminta penggantian tanaman di jalur hijau dilakukan sekarang, dengan pemilihan pohon yang menambah keindahan kota.
Di luar penataan kawasan pusat, Dedie mengingatkan jajaran kecamatan dan kelurahan untuk aktif melakukan pendataan masalah di wilayah masing-masing. Ia menginstruksikan penataan trotoar, penertiban PKL, persampahan, hingga saluran air digarap tanpa menunggu laporan atau viral terlebih dahulu.
“Harus memiliki inisiatif, jangan nunggu, jangan nunggu laporan. Jangan nunggu viral dulu, ya. Saya ingin para lurah yang selama ini sudah relatif bagus dan hebat dalam mengurus wilayah harus lebih ditingkatkan,” tegasnya.
Peran park ranger juga diminta ditingkatkan untuk menjaga ketertiban dan keamanan sesuai wilayah kerja masing-masing, memastikan penguatan penataan memberikan dampak hingga ke tingkat wilayah.