JAWA BARAT — MSI Claw 8 EX AI+ adalah konsol genggam (handheld) yang dirancang untuk memainkan game PC dan Xbox dari berbagai toko seperti Steam, Epic, GOG, hingga Xbox Game Pass. Berbekal chipset Intel Arc G3 Extreme yang mencakup GPU Intel Arc B390 dan RAM 32GB, konsol ini tercatat sebagai perangkat portabel paling bertenaga yang pernah diuji. Namun, semua kekuatan itu datang dengan harga yang membuat banyak orang berpikir dua kali.
Desainnya mengusung warna Void Purple dengan lampu RGB di sekeliling thumbstick asimetris. Material grip-nya diukir laser agar tidak licin, dan bobotnya terasa ringan untuk ukuran perangkat sekelas ini. Thumbstick dan trigger memakai sensor Hall effect yang diklaim lebih tahan lama dan responsif, meski tidak sepresisi versi TMR yang mulai dipakai sejumlah kontroler premium.
Ini adalah handheld pertama di pasaran yang memakai chipset Intel Arc G3 Extreme. Hasil benchmark 3DMark menunjukkan lompatan signifikan: skor Port Royal naik 76%, Fire Strike naik 35%, dan Time Spy naik 62% dibanding Asus ROG Ally X yang memakai AMD Ryzen Z2 Extreme.
Dalam pengujian nyata, Cyberpunk 2077 di setting Ultra tanpa ray tracing berjalan di 43fps—angka yang tidak pernah dicapai konsol genggam lain sebelumnya. Total War: Warhammer 3 rata-rata 81fps di Ultra, sementara Doom: The Dark Ages dan Clair Obscur: Expedition 33 konsisten di 60fps penuh. Baldur's Gate 3 di Ultra bertahan di kisaran 38fps.
Satu catatan: performa CPU-nya hampir sama dengan ROG Ally X (skor GeekBench 2.492 single-core vs 2.788), tetapi grafisnya yang membuat perbedaan besar. Sayangnya, saat dibandingkan dengan laptop gaming sekelas Alienware 16X Aurora (RTX 5070, sekitar Rp 33 jutaan), skor 3DMark Time Spy-nya masih dua kali lipat lebih tinggi. Artinya, untuk performa maksimal, laptop tetap juara.
Baterai 80Whr terdengar menjanjikan, tetapi hasil pengujian menunjukkan angka yang cukup mengecewakan. Dalam benchmark PCMark 10 Gaming, konsol ini bertahan antara 1 jam 36 menit hingga 2 jam 31 menit, tergantung mode daya. Pada mode AI default, memainkan The Elder Scrolls 4: Oblivion Remastered menghabiskan baterai penuh hanya dalam dua jam.
Mode AI ini sebenarnya pintar—ia menyesuaikan konsumsi daya secara dinamis agar performa tidak turun drastis. Namun, untuk game AAA modern, jangan berharap bisa main marathon tanpa colokan.
MSI Claw 8 EX AI+ dibanderol US$1.799 (sekitar Rp 29,7 juta) di pasar global. Harga itu hampir dua kali lipat Asus ROG Ally X (US$999) dan tiga kali lipat Steam Deck OLED. Dengan nominal segitu, pembeli sudah bisa mendapat laptop gaming menengah dengan GPU RTX 5060 atau 5070 yang performanya jauh lebih tinggi.
Konsol ini tidak punya trackpad atau mouse control bawaan seperti Steam Deck, sehingga beberapa game PC yang butuh kursor terpaksa dimainkan lewat layar sentuh. Software launcher MSI Center M juga masih kurang stabil—beberapa kali gagal merespons tombol dan bikin input terkunci saat kembali ke game. Ini masalah klasik Windows 11 yang belum sepenuhnya ramah untuk perangkat genggam.
MSI Claw 8 EX AI+ jelas merupakan pencapaian teknis yang mengesankan. Ia membuktikan bahwa konsol genggam bisa menjalankan game AAA dengan visual tinggi di atas 60fps. Namun, harganya yang selangit membuatnya sulit direkomendasikan untuk kebanyakan orang. Konsol ini baru cocok untuk gamer yang punya budget besar, sudah punya laptop gaming, dan ingin pengalaman bermain portabel tanpa kompromi—atau kolektor yang ingin punya perangkat pertama dengan chip Intel Arc G3 Extreme.
Bagi sebagian besar pembaca di Indonesia, menunggu harga turun atau memilih ROG Ally X yang jauh lebih murah masih merupakan keputusan yang lebih masuk akal.