Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin sore ditutup melemah 24,02 poin atau 0,37 persen ke posisi 6.501,67, mengikuti tren negatif bursa saham kawasan Asia. Pelemahan ini terjadi di tengah kekhawatiran investor terhadap defisit transaksi berjalan Indonesia yang melebar ke level tertinggi sepanjang sejarah.
JAKARTA — IHSG bergerak di zona merah sepanjang hari setelah dibuka menguat. Data perdagangan mencatat, sebanyak 384 saham mengalami penurunan, sementara 276 saham menguat dan 303 saham lainnya tidak bergerak nilainya.
Total nilai transaksi di bursa mencapai Rp14,26 triliun dengan frekuensi perdagangan sebanyak 2.171.000 kali. Jumlah saham yang diperdagangkan tercatat sebanyak 34,23 miliar lembar saham.
Bank Indonesia (BI) mencatat defisit transaksi berjalan Indonesia pada kuartal II 2026 melebar menjadi 12,5 miliar dolar AS, atau setara dengan 3,3 persen dari produk domestik bruto (PDB). Angka ini menjadi level tertinggi sepanjang sejarah.
Melebarnya defisit tersebut disebabkan oleh menyusutnya surplus barang dan meningkatnya biaya impor energi. Kondisi ini menjadi pemicu utama kekhawatiran pelaku pasar domestik.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, hanya dua sektor yang mampu bertahan di zona hijau. Sektor barang baku memimpin penguatan dengan kenaikan 1,21 persen, diikuti sektor industri yang naik tipis 0,15 persen.
Sementara itu, sembilan sektor lainnya terpaksa ditutup melemah. Sektor kesehatan menjadi yang paling tertekan dengan penurunan hingga 2,3 persen, disusul sektor properti yang turun 1,27 persen dan sektor keuangan yang melemah 0,86 persen.
Pelemahan IHSG sejalan dengan mayoritas bursa regional Asia. Indeks Kospi menjadi yang paling parah dengan anjlok 3,12 persen, diikuti Hang Seng yang melemah 1,89 persen ke posisi 25.517,33.
Nikkei melemah 0,69 persen ke 65.560,00, Shanghai turun 0,59 persen ke 3.882,01, dan Strait Times melemah tipis 0,15 persen ke 5.680,69.
Direktur Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menjelaskan, pelemahan bursa regional Asia dipicu oleh pelemahan futures saham Amerika Serikat (AS) menjelang konferensi pers Menteri Keuangan AS Scott Bessent terkait rencana sanksi tambahan terhadap Iran.
"Meski Iran menyatakan langkah tersebut tidak akan melemahkan Teheran," ujarnya dalam kajian di Jakarta, Senin.
Di tengah pelemahan IHSG, sejumlah saham justru mencatatkan penguatan harga terbesar, yaitu PICO, ELIT, SAFE, EKAD, dan CENT. Adapun saham-saham yang mengalami pelemahan harga terbesar yakni MEJA, ICON, MPRO, SDMU, dan CBTN.
Investor saat ini juga menantikan pertemuan Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional China pada 25-28 Agustus 2026. Pertemuan tersebut diharapkan memberikan sinyal kebijakan baru, terutama setelah serangkaian data ekonomi China yang mengecewakan dan komitmen pemerintah setempat untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi.