JAWA BARAT — PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney menyatakan kesiapan penuh Sirkuit Pertamina Mandalika untuk menjadi tuan rumah MotoGP musim depan. Kalender balap sudah menetapkan jadwal resmi pada 9-11 Oktober 2026, dan perusahaan pelat merah itu memastikan aspek pariwisata serta akomodasi akan dipoles habis-habisan.
"Kalau kita bicara spesifik tentang Lombok, tentang Mandalika, kita tidak bisa melepaskan Mandalika dari perhelatan MotoGP," ujar Vice President Corporate Secretary InJourney, Yudhistira Setiawan, dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (17/6).
Salah satu konsentrasi utama InJourney adalah memastikan distribusi penonton berjalan mulus. Langkah konkret yang diambil adalah meminta maskapai Garuda Indonesia menambah jadwal penerbangan menuju dan dari Lombok selama pekan balapan.
"Kami juga sudah meminta kepada Garuda untuk menambah flight supaya nanti di minggu MotoGP itu penerbangan ke sana ke mana-mana juga mudah, ada banyak pilihan," kata Yudhistira. Selain itu, koordinasi dengan pemerintah daerah terus dilakukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan wisatawan selama event berlangsung.
Bukan sekadar gengsi, perhelatan MotoGP terbukti menggerakkan roda ekonomi secara masif. InJourney mencatat, gelaran 2025 selama satu pekan memicu perputaran uang hingga Rp4,96 triliun dan menyerap sekitar 3.000 tenaga kerja. Angka ini menjadi dasar optimisme bahwa edisi 2026 akan memberikan efek berganda yang lebih besar.
Dampak sosial yang paling menarik justru datang dari para marshal asal Lombok Tengah. Keahlian mereka dalam bertugas di sirkuit internasional kini diakui hingga lintas negara. "Bahkan sudah diimport sampai ke GP di Jepang, di sirkuit MotoGP Jepang," ungkap Yudhistira.
Fenomena ini membuktikan bahwa penyelenggaraan ajang balap dunia tidak hanya mendatangkan wisatawan, tetapi juga menciptakan peluang karier baru bagi warga lokal. "Ini membuktikan bahwa destinasi itu tidak hanya menciptakan jumlah wisatawan yang hadir, tapi menciptakan economic impact, social impact, yang manfaatnya dirasakan jauh lebih luas daripada rupiah," pungkasnya.