JAWA BARAT — Puluhan petani sawit dari Desa Lesan Dayak, Berau, Kalimantan Timur, baru saja menuntaskan pelatihan intensif selama tiga hari. Mereka tidak hanya belajar teori di dalam ruangan, tetapi juga turun langsung ke kebun untuk mempraktikkan cara pemupukan yang tepat, perawatan tanaman, hingga penerapan standar pertanian berkelanjutan.
Fatimah, salah satu peserta, mengaku mendapatkan banyak pengetahuan baru yang selama ini tidak ia ketahui. "Pelatihan PERKASA ini sangat penting bagi kami. Kami mempelajari banyak hal, sehingga ekonomi kami bisa menjadi lebih baik lagi," ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima redaksi.
Alih-alih sekadar memberi bantuan bibit atau pupuk, TAP Group memilih pendekatan jangka panjang dengan membekali petani lewat pelatihan Good Agricultural Practices (GAP). Materi yang disampaikan mencakup pengelolaan kebun yang efisien dan cara meningkatkan hasil panen tanpa merusak lingkungan.
Yang menarik, program ini tidak memungut biaya sepeser pun. Perusahaan juga membagikan buku standar operasional yang ditulis dengan bahasa sederhana, sehingga mudah dipahami oleh petani di lapangan. Komposisi pelatihan sengaja dibuat lebih dominan praktik—60 persen—agar ilmu yang didapat langsung bisa diterapkan di kebun masing-masing.
Program PERKASA tidak hanya menyasar petani laki-laki. Keterlibatan perempuan seperti Fatimah justru menjadi perhatian khusus dalam pelatihan ini. TAP Group menilai, penguatan kapasitas ibu-ibu petani akan berdampak langsung pada ketahanan ekonomi keluarga, mengingat mereka kerap memegang kendali keuangan rumah tangga.
Pendampingan tidak berhenti setelah pelatihan selesai. Perusahaan berkomitmen melakukan pendampingan berkesinambungan agar para petani mampu mengelola usaha perkebunannya secara mandiri. Targetnya jelas: produktivitas kebun meningkat, praktik budidaya lebih ramah lingkungan, dan pada akhirnya kesejahteraan petani ikut terangkat.
Inisiatif ini merupakan bagian dari payung program TAP Untuk Negeri, yang selama ini menjadi wadah kontribusi sosial perusahaan di berbagai wilayah operasinya. Dengan adanya pelatihan semacam ini, TAP Group berharap kemitraan dengan petani plasma tidak hanya bersifat transaksional, tetapi juga transformatif—mengubah cara bertani sekaligus kualitas hidup masyarakat desa.