JAWA BARAT — Kategori fat tire e-bike selama ini identik dengan petualangan ekstrem: pasir pantai, jalur hutan, atau tanjakan berbatu. Batch Bicycles punya pandangan berbeda lewat eFT.3. Model ini justru mengakui kenyataan bahwa mayoritas sepeda berban gendut menghabiskan hidupnya di aspal kota, jalur sepeda, dan jalan perumahan—bukan di medan berat.
Alih-alih berpura-pura jadi mesin off-road, eFT.3 dirancang sebagai kendaraan harian yang nyaman dan praktis. Ban 20x4 inci yang dipakai tidak menggunakan pola knobby agresif, melainkan tapak halus khas ban commuter. Kombinasi ini, bersama garpu suspensi dan sadel berperedam, difokuskan untuk menyerap lubang, sambungan jalan, dan aspal retak yang bikin perjalanan urban tidak nyaman.
Suspensi depan dan seatpost yang sudah termasuk dalam paket penjualan bekerja sama menciptakan rasa berkendara yang stabil. Setelah menjajalnya, sensasi yang didapat bukan seperti mengendarai sepeda gunung, melainkan sepeda kota yang kebetulan memakai ban besar demi kenyamanan ekstra.
Dari sisi perlengkapan, eFT.3 sudah siap pakai sejak keluar dari kotak. Spatbor penuh, lampu LED depan-belakang yang menyala otomatis, serta rak belakang kokoh terpasang standar. Perlengkapan ini mungkin tidak glamor, tapi justru paling berguna untuk alat transportasi harian. Rak belakang menjadi penyelamat saat harus membawa belanjaan atau tas kerja tanpa harus memanggulnya.
Unit yang diuji mengusung motor hub belakang 750W dengan torque sensor. Respons pedal assist terasa natural, jauh dari kesan sentak yang sering ditemui pada sepeda listrik murah. Setting Class 3 memberikan bantuan pedal hingga 28 mph (45 km/h), sementara throttle dibatasi di 20 mph (32 km/h) sesuai regulasi.
Akselerasi terasa bertenaga dan tidak pernah menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Namun, ada satu hal yang langsung terdengar: motor ini berisik. Bukan sekadar sedikit berisik, tapi cukup jelas terdengar setiap kali gas ditekan. Performa tidak terpengaruh, tapi bagi yang terbiasa dengan motor listrik senyap, perbedaan ini akan langsung terasa.
Baterai 48V 15Ah dari LG menyediakan kapasitas 720Wh. Angka ini cukup sehat untuk kategori sepeda listrik. Jarak tempuh riil memang bergantung pada kecepatan, bobot pengendara, dan medan, tapi kapasitas sebesar ini membuat pengendara tidak perlu cemas kehabisan daya di tengah perjalanan.
Batch memilih drivetrain Shimano Tourney 7-speed, yang menempati posisi terbawah di lini Shimano. Komponen ini memang bukan barang premium, tapi untuk kebutuhan harian, perpindahan giginya tetap andal. Perawatannya mungkin perlu lebih sering, dan sebaiknya hindari membenturkannya ke trotoar.
Berbeda dengan drivetrain, rem cakram hidrolik Tektro justru melebihi ekspektasi. Dengan rotor 180mm, daya hentinya meyakinkan dan perawatannya lebih rendah dibanding sistem mekanik. Ini pilihan yang tepat untuk sepeda yang dipakai harian.
Satu keputusan desain yang menarik justru terletak pada apa yang tidak ada: engsel lipat. Banyak fat tire e-bike 20 inci menyertakan mekanisme lipat hanya karena sudah jadi norma industri, padahal sebagian besar pemiliknya tidak pernah melipat sepeda. Dengan menghilangkan engsel, rangka menjadi lebih kaku dan solid, sekaligus memangkas bobot yang tidak perlu.
Dengan harga eceran US$1.999 (sekitar Rp32 juta) dan diskon hingga US$1.799 (sekitar Rp28,8 juta) hingga September, eFT.3 tidak bermain di kelas murah. Drivetrain Tourney yang mendasar memang terasa kurang sepadan di titik harga ini.
Namun, kompromi tersebut sebagian terbayar oleh fitur commuter yang dipikirkan matang—spatbor, rak, lampu, dan ban yang tepat untuk jalanan rusak. Batch eFT.3 bukan sepeda yang mencoba meyakinkan pembeli bahwa mereka membeli sepeda gunung listrik. Ini adalah kendaraan kota yang kebetulan memakai ban gendut untuk meningkatkan kualitas berkendara, bukan kemampuan medan berat.