JAWA BARAT — Riset terbaru yang dipaparkan di GIIAS 2026 mengungkap pergeseran signifikan perilaku konsumen otomotif Tanah Air. Meski harga mobil listrik kini sudah menembus angka di bawah Rp300 juta, publik justru menahan diri bukan karena kantong, melainkan karena mempertanyakan kepastian penggunaan harian.
Josua Pardede menjelaskan, dari hasil surveinya, tiga hambatan teratas yang dirasakan konsumen semuanya berkaitan dengan aspek kepastian, bukan gaya hidup atau gengsi.
"Konsumen tidak berkata kendaraan listrik terlalu mahal. Mereka berkata mereka tidak yakin apa yang terjadi kalau nanti ada masalah di tengah perjalanan," ujarnya di ICE BSD City, Tangerang Selatan, pekan ini.
Ketiga kekhawatiran utama tersebut adalah keandalan kendaraan ketika mengalami kendala teknis, keterbatasan jarak tempuh, serta minimnya fasilitas Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di berbagai rute.
Di sisi lain, alasan konsumen mulai melirik kendaraan elektrifikasi justru datang dari pertimbangan rasional. Potensi penghematan biaya operasional dan manfaat terhadap lingkungan menjadi dua faktor pendorong terbesar yang mengalahkan motivasi sekadar mengikuti tren teknologi.
Kondisi ini, menurut Josua, menandakan pasar otomotif Indonesia tengah berada dalam fase transisi yang unik. Konsumen tidak serta-merta memihak pada satu jenis teknologi, melainkan mencari titik temu antara kebutuhan, kemampuan finansial, dan pola pemakaian sehari-hari.
"Indonesia tidak sedang mencari satu teknologi pemenang. Konsumen sedang mencari kecocokan antara teknologi, kebutuhan, kemampuan finansial, dan pola pakainya," kata Josua.
Fase pencarian tersebut tercermin dari pertumbuhan penjualan yang terjadi bersamaan di semua lini elektrifikasi sepanjang semester pertama tahun ini. Data yang dipaparkan menunjukkan kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE) masih menguasai pangsa pasar dengan torehan 44,8 persen.
Adapun untuk kendaraan listrik murni atau Battery Electric Vehicle (BEV) berhasil menguasai sekitar 21,7 persen pangsa pasar. Sementara itu, kendaraan hybrid (HEV) mencatatkan 12,5 persen dan Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) berada di angka 1,5 persen.
Angka tersebut menegaskan bahwa pasar tidak sedang berpindah secara drastis ke satu jenis kendaraan, melainkan berkembang paralel. Pilihan konsumen kini lebih cair, ditentukan oleh ketersediaan infrastruktur dan keyakinan akan keandalan produk.