Terminal LPG Tanjung Sekong di Cilegon Pasok 35-40 Persen Kebutuhan Gas Nasional, Target 63 Kabupaten/Kota

Penulis: Ivan Setiawan  •  Minggu, 02 Agustus 2026 | 12:50:01 WIB
Terminal LPG Tanjung Sekong di Cilegon memasok 35-40 persen kebutuhan gas nasional untuk 63 kabupaten/kota.

CILEGON — Terminal LPG Tanjung Sekong mengelola aliran gas elpiji yang menghidupi jutaan rumah tangga dan usaha kecil di Pulau Jawa. Infrastruktur milik Pertamina ini menggerakkan distribusi ke 63 kabupaten/kota, mencakup wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sumatera Selatan.

Angka pasokannya mencapai 35-40 persen dari total kebutuhan nasional. Artinya, hampir separuh tabung gas yang menyala di dapur-dapur warga Indonesia melewati fasilitas yang berdiri di atas lahan 12,9 hektare ini.

Kapasitas Penyimpanan 98.000 Metrik Ton dan Tiga Dermaga Khusus

Sejak beroperasi pada 2012, terminal ini terus bertumbuh. Pada 2020, statusnya ditingkatkan menjadi Terminal LPG Refrigerated dengan kapasitas penyimpanan mencapai 98.000 metrik ton. Tiga dermaga dengan kapasitas 3.500 hingga 65.000 DWT melayani bongkar muat kapal pengangkut gas.

Setiap bulannya, terminal ini mengalirkan lebih dari 200 ribu metrik ton elpiji. Volume sebesar itu menjadikan Tanjung Sekong salah satu hub LPG terbesar di Indonesia.

Peninjauan Langsung Komisaris Utama dan Fokus Keselamatan Operasi

Mochamad Iriawan melakukan Management Walkthrough untuk memastikan seluruh aspek operasional berjalan sesuai standar. Ia meninjau proses penerimaan, penyimpanan, hingga sistem distribusi gas, termasuk penerapan aspek Health, Safety, Security, and Environment (HSSE).

"LPG bukan sekadar komoditas energi, tetapi kebutuhan dasar yang menunjang aktivitas sehari-hari masyarakat. Karena itu, keandalan pasokannya harus terus dijaga agar rumah tangga, UMKM, hingga industri dapat beraktivitas tanpa hambatan. Terminal LPG Tanjung Sekong memegang peran penting dalam menjaga ketahanan energi nasional," ujar Iriawan dalam keterangan resminya.

Digitalisasi Rantai Pasok dan Inisiatif Dekarbonisasi

Pertamina tidak hanya mengandalkan infrastruktur fisik. Perusahaan pelat merah ini mendorong efisiensi lewat digitalisasi rantai pasok, termasuk pemantauan stok secara real-time dan optimalisasi waktu sandar kapal. Langkah ini mempercepat distribusi elpiji ke berbagai wilayah.

Di sisi lain, terminal ini mulai menjajaki pemanfaatan energi rendah emisi untuk mendukung kegiatan operasional. Inisiatif dekarbonisasi ini menjadi bagian dari transformasi menuju operasi yang lebih berkelanjutan.

Operasional 24 Jam untuk Menjaga Pasokan Energi Masyarakat

VP Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Muhammad Baron menegaskan bahwa terminal ini bekerja selama 24 jam penuh. Menurutnya, keandalan pasokan tidak hanya ditentukan oleh infrastruktur, tetapi juga disiplin operasional dan kesiapan seluruh pekerja.

"Operational excellence terminal ini tidak hanya ditentukan oleh infrastruktur, tetapi juga oleh disiplin operasional, penerapan HSSE, serta kesiapan seluruh pekerja dalam menjaga setiap tahapan distribusi LPG. Dari sinilah pasokan energi untuk masyarakat dapat terus terjaga," kata Baron.

Reporter: Ivan Setiawan
Sumber: satujabar.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top