TASIKMALAYA — Angka partisipasi sekolah di Kota Tasikmalaya menunjukkan penurunan drastis seiring bertambahnya usia pelajar. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, jika pada jenjang SD dan SMP angkanya masih di atas 97 persen, maka pada kelompok usia 16-18 tahun angkanya anjlok ke 73,15 persen. Kondisi ini yang mendorong Pemuda Muhammadiyah bergerak membentuk tim khusus.
Relawan Pendidikan Muhammadiyah (RPM) resmi dibentuk dengan fokus utama menjaring anak-anak yang terpaksa berhenti sekolah. Ketua RPM Kota Tasikmalaya, Dykasakti Azhar Nytotama, menyebut persoalan ini bukan sekadar angka statistik, melainkan persoalan kompleks yang menyangkut ekonomi dan sosial.
Dykasakti menjelaskan, banyak anak yang tidak melanjutkan pendidikan karena harus membantu ekonomi keluarga. Biaya transportasi yang tinggi juga menjadi beban tersendiri bagi pelajar di daerah pinggiran.
"Banyak anak yang terpaksa berhenti sekolah karena harus membantu ekonomi keluarga, biaya transportasi yang tinggi, pernikahan usia dini, tidak memiliki dokumen kependudukan, hingga mengalami perundungan atau belum tersedianya layanan pendidikan yang ramah bagi anak berkebutuhan khusus," ujarnya.
Persoalan administrasi kependudukan menjadi catatan penting. Anak tanpa akta kelahiran atau kartu keluarga kerap kesulitan mendaftar ke jenjang pendidikan berikutnya. Kondisi ini diperparah dengan kasus perundungan yang membuat anak enggan kembali ke sekolah.
RPM menyiapkan tiga program utama untuk mengembalikan anak ke bangku sekolah. Pertama, penyaluran beasiswa bagi keluarga tidak mampu. Kedua, membuka akses ke Lembaga Pendidikan Keterampilan (LPK) untuk pelatihan kerja. Ketiga, memperkuat peran Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) bagi anak yang sudah lama putus sekolah.
Ketiga program tersebut dirancang untuk menjawab akar masalah dari hulu ke hilir. Beasiswa menjawab persoalan biaya, PKBM menyediakan jalur pendidikan kesetaraan, sementara LPK membekali keterampilan agar lulusan siap kerja.
Ketua PD Pemuda Muhammadiyah Kota Tasikmalaya, Cecep Fikri, menegaskan pembentukan RPM merupakan bagian dari program strategis Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat dan Pemuda Muhammadiyah Pusat. Langkah ini diambil untuk mempercepat penanganan ATS secara nasional, dengan Tasikmalaya menjadi salah satu prioritas.
Fenomena anak putus sekolah di Tasikmalaya paling terlihat pada transisi SMP ke SMA. Dari data yang dihimpun, hampir 27 persen lulusan SMP memilih tidak melanjutkan pendidikan. Sementara pada jenjang perguruan tinggi, hanya satu dari empat pemuda berusia 19-23 tahun yang tercatat aktif kuliah.
RPM akan mulai memetakan data anak putus sekolah di setiap kecamatan. Pendekatan langsung ke keluarga menjadi strategi awal untuk mengetahui alasan pasti anak berhenti sekolah, sekaligus menawarkan solusi yang sesuai dengan kondisi masing-masing.