BANDUNG — Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Bandung Edi Wibowo menyatakan seluruh ZOM di Jawa Barat telah memasuki musim kemarau. Satu ZOM sisanya merupakan tipe satu musim atau tidak mengalami perubahan signifikan sepanjang tahun.
“Kami sampaikan, seluruh ZOM di Jawa Barat telah memasuki musim kemarau dan satu ZOM merupakan tipe satu musim,” kata Edi, Senin (20/7/2026).
BMKG memprediksi karakteristik cuaca pada puncak kemarau nanti akan lebih kering dari rata-rata klimatologisnya. Hal ini dipicu perkiraan curah hujan yang masuk kategori rendah atau di bawah normal.
Edi menambahkan, durasi musim kemarau tahun ini di sejumlah wilayah Jawa Barat diprediksi lebih panjang dari biasanya. Sifat hujan yang di bawah normal memperkuat potensi kekeringan yang lebih ekstrem.
“Agustus diperkirakan menjadi puncak kemaraunya. Sehingga untuk durasi musim kemarau tahun ini di beberapa wilayah di Jawa Barat diprediksi lebih panjang, dengan sifat hujan di bawah normal,” tegasnya.
Data BMKG menunjukkan satu ZOM yang masih dalam fase transisi berada di wilayah selatan Jawa Barat. Namun, secara keseluruhan, provinsi dengan populasi terbesar di Indonesia ini sudah tidak lagi mengalami hujan signifikan dalam beberapa pekan terakhir.
Menghadapi kondisi ini, Edi mengimbau masyarakat untuk bijak dan hemat menggunakan air bersih. Ia juga meminta pemangku kepentingan segera melakukan mitigasi guna meminimalisasi dampak kekeringan serta potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Sejumlah langkah preventif disarankan BMKG. Mulai dari percepatan pembangunan jaringan air bersih, pemilihan varietas tanaman tahan kekeringan, optimalisasi pengisian waduk, hingga perbaikan irigasi.
“Untuk sektor kehutanan, harus dilakukan antisipasi dan pemetaan daerah-daerah yang rawan terjadi karhutla,” jelas Edi.
Dampak kemarau sudah mulai terasa di sejumlah daerah. BPBD Kabupaten Tasikmalaya, misalnya, telah mendistribusikan 8.000 liter air bersih ke Kampung Sukajaya, Kampung Sirnagalih, dan Desa Kalapagenep, Kecamatan Cikalong.
Distribusi air bersih ini menjadi langkah awal penanganan darurat kekeringan yang diperkirakan akan meluas seiring mendekatnya puncak kemarau pada Agustus nanti. Pemkab di seluruh Jawa Barat diimbau segera menyusun rencana kontinjensi menghadapi musim kering tahun ini.