BANDUNG — Program Beasiswa Bedas Calakan yang digulirkan Pemkab Bandung sejak awal tahun ajaran 2024/2025 telah menjangkau 800 anak dari berbagai kecamatan. Bantuan ini diberikan kepada siswa SD, SMP, dan SMA yang orang tuanya tercatat dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) atau memiliki Kartu Keluarga Sejahtera (KKS).
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung, Agus Firman, mengatakan bahwa kuota penerima akan ditambah pada tahun 2026. "Antusiasme masyarakat sangat tinggi. Setiap kali pendaftaran dibuka, jumlah pemohon selalu melebihi kuota yang tersedia," ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (17/3).
Berbeda dengan skema beasiswa konvensional yang cair ke orang tua, Beasiswa Bedas Calakan mentransfer dana langsung ke rekening sekolah. Mekanisme ini dipilih untuk memastikan bantuan benar-benar digunakan untuk kebutuhan pendidikan siswa, seperti pembayaran SPP, pembelian seragam, dan alat tulis.
Setiap penerima mendapatkan nominal bantuan yang berbeda berdasarkan jenjang pendidikan. Siswa SD mendapat Rp 1,5 juta per tahun, SMP Rp 2,5 juta, dan SMA hingga Rp 4 juta. Total anggaran yang dialokasikan tahun ini mencapai Rp 2,8 miliar.
Calon penerima harus melalui verifikasi ketat oleh tim dinas pendidikan dan pendamping sosial kecamatan. Prioritas diberikan kepada anak yatim piatu, penyandang disabilitas, dan siswa dari keluarga yang kehilangan pencari nafkah.
Proses seleksi dilakukan secara transparan melalui sistem daring yang terintegrasi dengan data kependudukan. "Kami ingin tidak ada anak di Kabupaten Bandung yang putus sekolah hanya karena alasan biaya," kata Agus.
Sejak program berjalan pada Maret 2024, angka putus sekolah di Kabupaten Bandung tercatat menurun 12 persen dibanding tahun sebelumnya. Wilayah dengan penerima terbanyak meliputi Kecamatan Baleendah, Dayeuhkolot, dan Soreang.
Pemkab Bandung menargetkan penambahan kuota sebanyak 200 penerima pada tahun ajaran 2025/2026. Pendaftaran gelombang baru direncanakan dibuka pada Juli mendatang bersamaan dengan masa penerimaan peserta didik baru.