MUARA GEMBONG — Puluhan siswa SDN 02 Desa Pantai Bahagia memulai hari mereka dengan naik perahu di atas aliran Sungai Citarum, Kamis (16/7/2026). Bukan untuk rekreasi, melainkan untuk sampai ke sekolah. Sejak abrasi meluluhlantakkan akses jalan darat di wilayah pesisir utara Bekasi ini, perahu kayu bermesin tempel menjadi tumpuan utama mobilitas warga, termasuk anak-anak usia sekolah.
Pihak sekolah memfasilitasi jasa antar-jemput perahu agar anak-anak tetap bisa mengenyam pendidikan. Tanpa layanan ini, banyak siswa yang terancam putus sekolah karena jarak tempuh melalui jalur air yang berbahaya, terutama saat musim hujan dan ombak Sungai Citarum sedang tinggi.
Abrasi di Muara Gembong bukan persoalan baru. Wilayah yang berada di pesisir utara Jawa ini telah kehilangan puluhan meter daratan dalam 20 tahun terakhir. Rumah-rumah warga, fasilitas umum, dan jalan desa perlahan tenggelam. Pemerintah daerah dan pusat telah beberapa kali melakukan upaya penanggulangan, seperti pembangunan tanggul dan penanaman mangrove, namun hasilnya belum signifikan mengembalikan akses darat yang hilang.
“Kami sudah terbiasa. Dari kecil naik perahu, sekarang anak-anak kami juga begitu. Kalau hujan deras, ya was-was,” ujar seorang warga yang ditemui di sekitar dermaga darurat, menggambarkan keseharian yang keras namun diterima sebagai takdir geografis.
Perahu antar-jemput yang disediakan SDN 02 Desa Pantai Bahagia bukan sekadar alat transportasi. Ia adalah simbol betapa rentannya infrastruktur pendidikan di daerah terdampak krisis iklim. Setiap pagi, para siswa berbaris di tepi sungai, menunggu giliran naik ke perahu yang sudah disiapkan guru atau petugas sekolah. Perjalanan memakan waktu sekitar 10-15 menit, tergantung arus air.
Pihak sekolah mengaku biaya operasional perahu ini cukup besar, terutama untuk bahan bakar dan perawatan mesin. Namun, mereka tak punya pilihan lain. “Kalau tidak diantar jemput, banyak anak yang tidak masuk. Orang tua juga khawatir,” kata seorang guru di sekolah tersebut.
Kondisi ini kembali menjadi sorotan publik. Pemkab Bekasi sejauh ini belum mengumumkan kebijakan baru terkait pembangunan akses jalan alternatif atau relokasi permukiman di Muara Gembong. Program normalisasi Sungai Citarum yang digadang-gadang sebagai proyek raksasa juga belum menyentuh persoalan akses transportasi dasar bagi warga di bantaran sungai.
Untuk saat ini, perahu kayu itu tetap berlayar setiap hari. Membawa mimpi-mimpi kecil anak-anak Desa Pantai Bahagia menuju ruang kelas, melintasi sungai yang sama yang selama dua dekade terus mengambil daratan mereka.