JAWA BARAT — Keributan melanda konsumen BYD di Australia setelah ribuan unit Atto 2 dan Atto 3 yang dikirimkan ternyata merupakan stok produksi 2025, bukan model 2026 seperti yang tertera di dokumen penjualan. Peristiwa ini terkuat setelah para pembeli melayangkan protes ke media, menganggap kompensasi awal tidak sebanding dengan potensi kerugian depresiasi kendaraan.
Direktur Hubungan Masyarakat BYD Australia Paul Ellis menjelaskan kepada ABC News, Sabtu (11/7), bahwa akar masalah ada pada sistem pencatatan internal perusahaan. Sistem keliru mencatat tanggal kendaraan meninggalkan pabrik sebagai tanggal produksi. Data yang salah ini kemudian terbawa hingga ke kontrak pembelian konsumen.
"Itu adalah kesalahan administratif yang terjadi. Tidak ada niat menipu," tegas Ellis kepada Carscoops. Ia memastikan secara teknis tidak ada perbedaan antara unit yang sudah terlanjur dikirim dengan spesifikasi versi 2026 yang dijanjikan.
Awalnya BYD hanya menawarkan kompensasi AU$1.100 atau setara Rp13,7 juta per unit. Tawaran ini dinilai banyak konsumen tak cukup menutup kerugian nilai jual kembali mobil bekas yang sudah terdepresiasi. Setelah tekanan media meningkat, BYD mengubah sikap dengan memberikan tiga pilihan kepada seluruh pembeli terdampak:
Menurut Ellis, mayoritas konsumen memilih opsi terakhir. Namun BYD tetap akan menghubungi ulang seluruh pembeli, termasuk yang sudah menyetujui kompensasi awal, untuk menawarkan opsi refund penuh.
CarsGuide menduga kesalahan ini berkaitan dengan ambisiusnya target distribusi BYD di Australia. General Manager BYD Asia Pacific Liu Xueliang pada April lalu menjanjikan kedatangan 30 ribu unit ke Australia hingga akhir Juni demi memenuhi lonjakan permintaan. Tekanan mengejar target itulah yang disebut-sebut membuat sejumlah stok lama ikut terkirim ke konsumen.
"Penting bagi kami untuk menjaga itikad baik dengan konsumen Australia. Kami harus melakukan hal yang benar," ujar Ellis kepada CarsGuide menanggapi dugaan tersebut.
Kasus ini menjadi pengingat bagi industri otomotif, terutama merek yang tengah ekspansi agresif, bahwa kesalahan pencatatan administratif bisa berdampak besar pada kepercayaan konsumen. Di Indonesia, BYD juga terus memperkuat penetrasi pasar mobil listrik, dan pengalaman di Australia bisa menjadi pelajaran berharga untuk mencegah insiden serupa terjadi di dalam negeri.