IHSG Menguat di Tengah Optimisme AI dan Meredanya Ketegangan Geopolitik, Investor Tunggu Sinyal The Fed

Penulis: Feri Andika  •  Senin, 13 Juli 2026 | 13:59:01 WIB
IHSG ditutup menguat didorong optimisme sektor AI dan meredanya ketegangan geopolitik global.

JAKARTA — Aksi beli investor menyambut penguatan indeks saham domestik di tengah sentimen global yang mulai kondusif. Kenaikan IHSG tidak hanya dipicu oleh optimisme terhadap sektor AI, tetapi juga ekspektasi pelaku pasar terhadap arah kebijakan moneter Amerika Serikat yang dinilai lebih jelas dalam waktu dekat.

Level Teknikal IHSG: Support di 5.900, Target ke 6.000

Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata menilai pergerakan IHSG masih menunjukkan potensi penguatan selama indeks mampu bertahan di atas area 5.900 hingga 5.882. Menurutnya, indeks berpeluang menguji kisaran 5.948 sampai 6.000 dan berlanjut menuju 6.100 hingga 6.220 apabila berhasil menembus batas atas channel yang ada.

“Namun, apabila kembali turun di bawah level 5.900, IHSG berisiko menguji area support pada kisaran 5.839 hingga 5.805,” jelas Liza dalam risetnya. Pergerakan indeks dalam beberapa hari ke depan akan sangat dipengaruhi oleh sentimen eksternal, terutama data ekonomi global.

Optimisme AI Menguat Usai Debut Saham SK Hynix di Nasdaq

Dari pasar global, perhatian investor kembali tertuju pada prospek industri kecerdasan buatan. Optimisme meningkat setelah saham SK Hynix mencatat debut kuat di bursa Nasdaq Amerika Serikat dengan kenaikan 13 persen dibandingkan harga penawaran perdananya. Momentum ini muncul menjelang musim laporan keuangan kuartal kedua 2026.

Konsensus pasar saat ini memperkirakan laba emiten dalam indeks S&P 500 tumbuh sekitar 24 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh sektor teknologi dan AI yang menjadi motor penggerak utama bursa saham global.

Geopolitik Mereda, Fokus Beralih ke Inflasi AS dan Sinyal Suku Bunga

Faktor geopolitik yang sempat membebani pasar mulai mereda. Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai kesiapan melanjutkan pembicaraan dengan Iran setelah berakhirnya gencatan senjata pada Juni 2026 dinilai memberikan harapan terhadap penurunan ketegangan di kawasan Timur Tengah. Penurunan harga minyak juga turut mengurangi kekhawatiran pasar terhadap potensi tekanan inflasi global.

Ke depan, fokus investor akan tertuju pada rilis data inflasi Amerika Serikat periode Juni 2026 serta kesaksian Gubernur The Fed Kevin Warsh di hadapan House Committee on Financial Services. Kedua agenda tersebut dipandang akan memberikan petunjuk penting mengenai arah kebijakan suku bunga bank sentral AS dalam beberapa bulan mendatang, yang secara langsung mempengaruhi aliran modal ke pasar emerging market termasuk Indonesia.

Reporter: Feri Andika
Sumber: visi.news This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top