JAWA BARAT — Kepala BRIN Arif Satria mengungkapkan, NEO-1 bukan sekadar satelit biasa. Dibekali sensor optik visible dan thermal infrared, satelit seberat kelas mikro ini mampu memotret permukaan bumi dengan resolusi tinggi dan menengah. Kemampuan itu membuatnya bisa memantau kondisi lahan pertanian, hutan, hingga wilayah pesisir secara periodik.
Salah satu fitur yang membedakan NEO-1 dari pendahulunya adalah integrasi Automatic Identification System (AIS). Sistem ini biasanya dipasang di kapal niaga untuk menghindari tabrakan, namun di NEO-1 berfungsi sebagai alat pemantau lalu lintas laut dari orbit. "Satelit ini bisa melacak aktivitas kapal di perairan Indonesia melalui AIS," kata Arif saat Peringatan 50 Tahun Satelit Indonesia di Kantor Pusat BRIN, Jakarta, Rabu (8/7/2026).
Dengan data gabungan dari citra optik dan sinyal AIS, pemerintah bisa mendeteksi kapal asing yang mencurigakan atau memantau jalur pelayaran logistik. Data ini juga berguna untuk Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam mengawasi zona tangkap nelayan.
Arif menjelaskan, data dari NEO-1 akan digunakan untuk pemetaan wilayah, pemantauan sektor pertanian, kehutanan, kelautan, lingkungan, dan mitigasi bencana. Misalnya, petani bisa mendapatkan informasi tentang tingkat kelembaban tanah atau fase pertumbuhan tanaman dari citra satelit, tanpa harus turun ke lapangan setiap hari. Saat terjadi bencana seperti banjir atau kebakaran hutan, satelit ini bisa memberikan citra terkini untuk membantu tim penanggulangan menentukan titik evakuasi.
Seluruh tahapan pengembangan NEO-1, mulai dari perancangan misi, desain sistem, integrasi, pengujian, hingga pengembangan perangkat lunak dan operasi stasiun bumi, dikerjakan oleh insinyur dan peneliti Indonesia. BRIN menargetkan satelit ini bisa beroperasi penuh setelah peluncuran pada awal 2027, memperkuat kemandirian data spasial nasional yang selama ini sebagian besar masih bergantung pada operator asing.