BANDUNG — Aktivitas seismik di Jawa Barat sepanjang bulan lalu tergolong tinggi. BMKG Stasiun Geofisika Kelas 1 Bandung mencatat 72 kali gempa terjadi selama Juni 2026, dengan lima kejadian di antaranya dirasakan langsung oleh masyarakat di sejumlah daerah.
“Dari 72 kali kejadian, guncangan gempa bumi terbesar yang tercatat adalah 3,9 magnitudo dan yang terkecil 1 magnitudo,” kata Kepala Stasiun Geofisika BMKG Bandung Edi Wibowo di Bandung, Selasa.
Berdasarkan analisis BMKG, mayoritas gempa yang terjadi merupakan jenis gempa dangkal. Sebanyak 60 kejadian memiliki pusat gempa di kedalaman kurang dari 60 kilometer, sementara 12 kejadian lainnya berada di kedalaman 60 hingga 300 kilometer.
Dari segi lokasi pusat gempa, BMKG mencatat 38 gempa berpusat di laut dan 34 gempa lainnya berpusat di darat. Salah satu gempa yang dirasakan terjadi pada Sabtu (6/6) lalu berkekuatan 3,5 magnitudo yang berpusat di Kabupaten Cianjur.
Gempa 3,5 magnitudo yang berpusat di Cianjur itu tidak hanya dirasakan oleh warga setempat, tetapi juga hingga ke wilayah Sukabumi. “Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas sesar aktif,” jelas Edi Wibowo.
Kondisi geologis Jawa Barat yang berada di jalur sesar aktif memang membuat kawasan ini rawan guncangan. BMKG mengingatkan masyarakat agar tidak lengah meski gempa yang terjadi cenderung kecil.
Menanggapi tingginya frekuensi gempa, BMKG Bandung memberikan sejumlah rekomendasi bagi warga. Masyarakat diminta untuk menghindari bangunan yang sudah retak atau rusak karena berpotensi ambruk saat terjadi guncangan susulan.
“Kami mengimbau jika terjadi gempa bumi masyarakat diminta untuk tenang, waspada, serta tidak terpancing isu yang tidak bertanggung jawab,” kata Edi Wibowo.
BMKG juga meminta warga untuk selalu mengikuti arahan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat dan hanya merujuk pada informasi resmi yang dikeluarkan BMKG. Langkah antisipasi ini penting mengingat gempa dangkal di Jawa Barat kerap dipicu oleh sesar aktif yang pola pergerakannya sulit diprediksi secara tepat.