JAWA BARAT — Lembaga riset pasar TrendForce merilis laporan terbaru yang memperkirakan pasar laptop global mengalami kontraksi signifikan tahun ini. Kenaikan harga jual MacBook—dipicu lonjakan biaya komponen memori dan semikonduktor—menjadi kontributor utama penurunan tersebut.
Menurut TrendForce, Apple diperkirakan tetap mengirimkan 23,1 juta unit notebook sepanjang 2026. Angka ini didukung permintaan yang lebih kuat dari perkiraan di paruh pertama tahun, ditambah efek upgrade chip Apple Silicon dan loyalitas pengguna ekosistem macOS.
Namun, laporan mencatat permintaan kuat di awal tahun justru "memajukan" sebagian permintaan yang seharusnya datang di semester kedua. Akibatnya, sisa tahun ini diproyeksikan menghadapi permintaan yang lebih lesu.
Kenaikan harga tidak hanya terjadi pada lini MacBook. Tekanan dari sektor AI server yang terus menyedot kapasitas memori dan sumber daya semikonduktor canggih membuat biaya komponen tetap tinggi. Produsen laptop pun mulai meneruskan kenaikan ini ke harga ritel.
"Beberapa merek notebook sudah mengalami pelemahan permintaan konsumen. Ini terlihat jelas di segmen entry-level dan mainstream, di mana sensitivitas harga semakin terasa," tulis TrendForce dalam laporannya.
Laporan itu juga menyoroti kemungkinan perpindahan konsumen. Dengan harga MacBook yang semakin mahal, celah harga antara MacBook dan laptop Windows premium kian menyempit. Hal ini bisa mendorong pembeli yang sensitif terhadap harga untuk beralih ke perangkat Windows.
Meski begitu, TrendForce menilai efek limpahan ini tidak akan signifikan. "Dengan harga notebook yang naik di semua lini dan melemahnya permintaan konsumen secara umum, efek limpahan ini diperkirakan terbatas dan tidak akan menjadi pendorong berarti bagi pemulihan pasar yang lebih luas," demikian bunyi kutipan laporan tersebut.
Ke depan, TrendForce memperkirakan tekanan biaya komponen akan terus berlanjut seiring permintaan AI server yang masih tinggi. Di sisi lain, resistensi konsumen terhadap harga yang terus naik juga semakin kuat. Kombinasi kedua faktor inilah yang menjadi dasar proyeksi penurunan 13,6% pengiriman laptop global sepanjang 2026.
Bagi konsumen Indonesia, situasi ini patut dicermati. Kenaikan harga laptop—baik MacBook maupun merek Windows—bisa berarti anggaran belanja gadget tahun ini perlu disesuaikan. Di sisi lain, pelemahan permintaan global kadang membuka peluang diskon dari distributor lokal, terutama menjelang akhir tahun.