Renungan Hidup dari Kuningan: Waktu Ibarat Es Batu yang Terus Mencair, Jangan Tunggu Habis Baru Menyesal

Penulis: Ivan Setiawan  •  Kamis, 18 Juni 2026 | 14:50:01 WIB
Imam Nur Suharno mengajak merenungi waktu hidup yang terus berjalan seperti es batu yang mencair perlahan.

KUNINGAN — Pernahkah Anda memegang es batu di tangan? Sekeras apa pun bentuknya, diamkan saja, ia akan mencair perlahan. Detik demi detik, tetes demi tetes, hingga akhirnya habis tanpa bekas. Begitulah analogi yang ditawarkan Imam Nur Suharno dalam tulisannya yang mengajak pembaca merenungi hakikat usia.

"Hidup itu seperti es batu, nikmatilah dengan baik sebelum ia mencair," tulisnya dalam artikel berjudul "Es Batu Usiamu" yang tayang di Kuningan Mass.

Menurut Imam, umur manusia akan terus berkurang, baik digunakan untuk taat maupun maksiat. Perbedaannya hanya terletak pada akhirnya: apakah ia menjadi air yang menyegarkan atau genangan yang disesali.

Waktu Adalah Modal yang Tak Bisa Ditawar

Imam mengingatkan bahwa Allah SWT bersumpah dengan waktu dalam surat Al-'Ashr. Ibnu Katsir menjelaskan, sumpah itu karena di dalam masa terdapat keajaiban: malam dan siang, sehat dan sakit, kaya dan miskin. Semua manusia rugi, kecuali yang mengisi waktunya dengan iman, amal saleh, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.

Rasulullah SAW juga memperingatkan: "Dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya: kesehatan dan waktu luang." (HR. Bukhari). Banyak orang mengira kesehatan dan waktu senggang tidak akan habis, padahal keduanya seperti es batu yang mencair pelan-pelan.

Seni Menunggu dan Kesabaran Aktif

Imam Nur Suharno menekankan bahwa hidup adalah proses. Allah tidak menciptakan alam semesta dalam sekejap, manusia tidak lahir langsung dewasa, dan ulat tidak tiba-tiba menjadi kupu-kupu. Semua memiliki fase.

Ia mengutip nasihat Imam Syafi'i: "Bersabarlah yang baik maka kelapangan itu begitu dekat. Barangsiapa mendekatkan diri kepada Allah dalam urusannya maka dia pasti akan selamat." Sabar, menurut Imam, bukan diam pasrah, melainkan aktif berikhtiar sambil hati yakin bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan tetes keringat hamba-Nya.

Kisah Nabi Ya'qub yang kehilangan Nabi Yusuf bertahun-tahun menjadi contoh. Beliau hanya berkata, "Maka sabar yang indah" (Q.S. Yusuf: 18), dan akhirnya Allah mempertemukan kembali dengan cara yang tidak disangka-sangka.

Sebelum Es Batu Habis

Dalam tulisannya, Imam juga mengingatkan bahwa setiap orang yang datang dalam hidup adalah takdir. Ada yang hadir sebagai nikmat, ada pula sebagai pelajaran. "Jangan sampai es batumu habis untuk membenci orang yang Allah kirim justru untuk menaikkan derajatmu," tulisnya.

Ia menutup renungan dengan ajakan untuk mengisi waktu sebelum semuanya berakhir. "Isi ruang shalatmu sebelum ruang kuburmu diisi, perbanyak istighfar, dan gunakan sehatmu sebelum sakitmu," pesannya.

Semua akan ada waktunya, seperti musim yang berganti dan roda yang berputar. Tugas manusia bukan mengatur kapan cairnya, melainkan memastikan setiap tetes usia jatuh di jalan ridha-Nya.

Reporter: Ivan Setiawan
Sumber: kuninganmass.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top