SUMEDANG — Rencana pengembangan energi panas bumi di sejumlah gunung di Jawa Barat mendapat perlawanan sengit dari komunitas warga yang menggantungkan hidup pada tanah dan air di kawasan tersebut. Paguyuban Warga Jaga Giri, yang menghimpun suara dari empat titik gunung, menuntut penghentian total seluruh proyek geotermal di Jawa bagian barat dan Indonesia.
Kekhawatiran utama warga terletak pada ancaman terhadap sumber daya air. Embang, perwakilan warga dari Sukabumi, mengaku telah melihat bukti dari kanal Youtube bahwa industri geotermal dinilai rakus air. Ia menyoroti dampak langsung terhadap ibadah warga muslim yang membutuhkan air untuk bersuci.
“Lamun industri geothermal dibangun di Desa Sirnarasa, tangtu warga bakalan hese Ibadah ge (Apabila industri geothermal dibangun di Desa Sirnarasa, tentu warga akan kesulitan untuk melaksanakan ibadah),” ujar Embang dalam pernyataan tertulis.
Ia juga menggambarkan ironi yang mengancam: “Warga tos sejahtera, lamun datang geothermal, kesejahteraan warga bakal leungit, nu aya imah warga digenti ku tenda, beas digenti ku mie instan jeung cai diganti ku cipanon.”
Pepen, warga dari Gunung Tampomas, menjelaskan bahwa kawasan tersebut bukan sekadar lahan kosong. Dari pertanian, warga mampu memproduksi beras, durian, cengkeh, cokelat, dan alpukat yang distribusinya tembus hingga Cirebon, Bandung, dan Jakarta. Hasil budidaya jamur bahkan mencapai 25 ton per musim panen.
“Gunung Tampomas juga merupakan penyangga air bagi 10 kecamatan dan pertanian di sekitarnya. Jika geotermal dibangun, peninggalan sejarah dan kearifan lokal yang tersebar di gunung ini juga akan hilang,” kata Pepen.
Pepen menyayangkan sikap Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang dinilainya belum mengakomodir penolakan warga. Ia mengingatkan bahwa dalam kunjungan terakhir ke Sumedang, gubernur sempat mengajak masyarakat menjaga gunung dan alam.
“Waduk (bohong) lah. Kalau minta untuk jaga gunung, jaga alam. Selama ini juga ketika warga meminta menemui dia, dia enggak pernah ada. Masa enggak ada? Enggak masuk akal kalau dia bisa ke Aceh, bisa ke mana-mana bantuannya, tapi ketika di Jawa Barat sendiri ada masalah dia enggak pernah bersikap,” kritik Pepen.
Apip, warga dari kaki Gunung Ciremai di Kuningan, menambahkan bahwa sebelum proyek geotermal bergulir pun, warga sudah merasakan krisis air, banjir, dan tanah longsor. Ia mengaitkan kondisi itu dengan menjamurnya perusahaan air minum dalam kemasan dan industri pariwisata berupa hotel dan villa.
“Produksi pertanian di Gunung Ciremai menyuplai kebutuhan ribuan petani di Kuningan, Cirebon, hingga Majalengka. Setelah perusahaan air dan pariwisata menjamur, warga mulai kesulitan mendapatkan air, bahkan di musim kemarau harus mengantre dan berebut air,” ujar Apip.
Peneliti dari CELIOS, Lila Puspitaningrum, mengonfirmasi kekhawatiran masyarakat. Penelitian yang dilakukan lembaganya menemukan bukti di berbagai lokasi operasi geotermal bahwa proyek ini bukanlah energi bersih yang bebas dari dampak sosial-ekologis. Temuan itu memperkuat tuntutan warga agar pemerintah menghentikan seluruh rencana proyek yang dinilai merusak lingkungan dan merampas ruang hidup masyarakat.