JAWA BARAT — Computex 2026 di Taipei baru saja usai, dan seperti dugaan banyak pihak, kecerdasan buatan (AI) menjadi bintang utama pameran. Di tengah riuhnya pengumuman Nvidia GTC 2026, HP memanfaatkan momen untuk memamerkan lini terbaru workstation AI-nya. Produk andalan mereka adalah ZGX Fury GB300, sebuah sistem deskside yang ditenagai oleh superchip Nvidia GB300 Grace Blackwell Ultra Desktop Superchip.
ZGX Fury GB300 bukan sekadar PC biasa. Perangkat ini dirancang untuk menangani beban kerja AI yang sangat berat, khususnya inferensi dan fine-tuning model besar. Berdasarkan informasi dari HP dan Nvidia, spesifikasi teknisnya meliputi:
Kemampuan menjalankan model 1 triliun parameter di perangkat lokal merupakan lompatan besar. Sebelumnya, tugas seberat ini hanya bisa dilakukan di pusat data kelas enterprise dengan rak server raksasa. Dengan ZGX Fury GB300, pengembang dan peneliti bisa melakukan eksperimen, fine-tuning, dan pengujian model AI sensitif langsung di meja kerja mereka, mengurangi ketergantungan pada cloud dan meningkatkan keamanan data.
Jim Nottingham, SVP and Division President, Advanced Compute and Solutions, HP Inc., menekankan pentingnya integrasi. "Lebih dari 70% PC enterprise menjalankan Windows, dan pelanggan kami meminta kekuatan superkomputer AI yang bisa terintegrasi mulus ke lingkungan yang sudah ada," ujarnya dalam pernyataan resmi. HP memastikan dukungan penuh untuk ekosistem Windows pada perangkat ini.
HP masih bungkam soal harga pasti ZGX Fury GB300. Namun, melihat perangkat ini berbasis pada Nvidia DGX Station, kita bisa memperkirakan banderolnya. Beberapa reseller sudah menawarkan konfigurasi mid-range DGX Station mulai dari USD 94.000 (sekitar Rp 1,55 miliar), sementara varian tertingginya menyentuh USD 200.000 (sekitar Rp 3,3 miliar). Bisa dipastikan, ZGX Fury GB300 akan berada di kisaran harga yang sama, menjadikannya investasi serius, bukan sekadar PC gaming mahal.
Perangkat ini dijadwalkan rilis pada Q4 2026, bersamaan dengan peluncuran Nvidia DGX Station. HP tidak sendirian; Dell, MSI, ASUS, dan Supermicro juga akan merilis produk serupa dengan basis superchip yang sama. Target utama perangkat ini jelas: pengembang AI, peneliti, dan perusahaan yang membutuhkan komputasi lokal dengan performa ekstrem dan tidak terlalu memikirkan soal harga.