BOGOR — Peristiwa pengeroyokan yang menimpa seorang pelajar di Kota Bogor tidak berlanjut ke proses hukum setelah kedua belah pihak memilih jalur damai. Kesepakatan itu diraih dalam mediasi yang melibatkan keluarga korban, keluarga pelaku, serta perwakilan dari kepolisian dan aparatur kelurahan.
Mediasi digelar beberapa hari setelah insiden pengeroyokan terjadi. Dalam pertemuan tertutup itu, kedua pihak saling memaafkan dan sepakat untuk tidak melanjutkan perkara ke pengadilan.
Proses mediasi berlangsung cukup alot di awal, namun akhirnya mencapai titik temu. Keluarga korban menyatakan menerima permintaan maaf dari pihak pelaku secara kekeluargaan.
“Kami sudah memaafkan. Yang penting kejadian ini tidak terulang lagi dan anak-anak bisa sekolah seperti biasa,” ujar salah satu perwakilan keluarga korban dalam pertemuan tersebut.
Kepolisian setempat bertindak sebagai fasilitator utama dalam mediasi ini. Selain itu, perangkat kelurahan turut hadir untuk memastikan proses berjalan kondusif dan tidak memicu ketegangan baru di lingkungan sekitar.
Pihak kepolisian menegaskan bahwa mediasi merupakan opsi terbaik mengingat kedua belah pihak masih memiliki hubungan kekerabatan atau bertetangga. Proses damai ini juga dianggap lebih efektif untuk memulihkan hubungan sosial di komunitas.
Dengan adanya kesepakatan damai, kasus pengeroyokan ini tidak akan dilanjutkan ke tahap penyidikan lebih lanjut. Kedua belah pihak menandatangani surat pernyataan damai yang diketahui oleh pihak kepolisian dan kelurahan.
Meski demikian, polisi tetap mengimbau agar para orang tua lebih mengawasi pergaulan anak-anaknya. Pencegahan dini dianggap lebih penting daripada penindakan setelah peristiwa terjadi.
Peristiwa ini menjadi pengingat bagi masyarakat agar konflik antarremaja tidak selalu harus diselesaikan melalui jalur hukum. Pendekatan restorative justice dinilai lebih manusiawi dan efektif untuk memulihkan hubungan sosial di lingkungan permukiman padat seperti di Kota Bogor.