Nike Bikin Jersey Piala Dunia dari Daur Ulang Kimia, Tapi Ini Bukan Solusi untuk Sampah Fashion Global

Penulis: Feri Andika  •  Sabtu, 30 Mei 2026 | 17:20:01 WIB
Nike meluncurkan jersey Piala Dunia yang terbuat dari limbah tekstil melalui daur ulang kimia tingkat lanjut.

Juni nanti, 16 tim nasional akan berlaga di Piala Dunia dengan seragam yang diklaim terbuat dari pakaian bekas orang lain. Nike mengumumkan telah menggunakan "daur ulang kimia tingkat lanjut" untuk memproduksi jersey performa elit pertamanya yang sepenuhnya berasal dari limbah tekstil. Ini langkah terbaru perusahaan dalam menekan jejak karbon industri fashion yang selama ini jadi salah satu penyumbang polusi terbesar dunia.

Namun, klaim bahwa seragam ini adalah titik balik menuju fashion sirkular — di mana pakaian bisa didaur ulang berkali-kali — langsung dibantah para peneliti. "Ya, secara teknis mungkin dilakukan," kata Veena Singla, peneliti kesehatan lingkungan dari UC San Francisco. "Tapi apakah itu benar-benar akan terjadi di dunia nyata?" Menurutnya, kenyataannya jauh lebih rumit dari yang dibayangkan konsumen.

Teknologi Canggih, Tapi Terbatas pada Sampah Pabrik

Daur ulang kimia bekerja dengan melarutkan serat pakaian menjadi unit kimia dasar yang bisa dipintal ulang menjadi kain baru. Secara teori, ini adalah solusi sirkular sejati karena tidak bergantung pada botol plastik bekas — sumber utama daur ulang polyester selama ini. Namun, masalahnya ada pada bahan baku yang dimasukkan ke mesin.

Diana Ferreira, peneliti tekstil dari Universitas Minho Portugal, menjelaskan bahwa teknologi ini hanya efektif jika diisi dengan limbah industri yang bersih dan seragam. "Jika kita berurusan dengan aliran limbah polyester yang bersih dan tersortir rapi, daur ulang kimia bisa menghasilkan material setara virgin polyester," katanya. "Tapi jika itu sampah tekstil konsumen — campuran katun, nilon, wol, spandex, akrilik, pewarna, ritsleting — situasinya jauh lebih kompleks."

Artinya, pakaian bekas yang kita buang ke tempat donasi atau tempat sampah belum tentu bisa diolah dengan metode ini. Yang lebih mungkin terjadi justru limbah pabrik — sisa potongan kain dari proses produksi — yang jadi andalan daur ulang kimia.

Industri Fashion Masih Jauh dari Sirkular

Nike memang sudah meneken kerja sama dengan dua perusahaan rintisan daur ulang kimia: Syre asal Swedia dan Loop Industries dari AS. Tapi baik Nike maupun kedua startup itu belum mengungkap detail teknologi dan skala produksinya. Sementara itu, industri fashion global menghasilkan lebih dari 100 miliar pakaian setiap tahun, menyumbang hingga 10 persen emisi gas rumah kaca dunia, dan hampir 70 persen pakaian terbuat dari polyester berbasis minyak bumi.

Alih-alih mengurangi produksi, banyak merek justru menggenjot "sirkularitas" polyester — sebagian besar melalui daur ulang. Namun, strategi ini punya kelemahan besar. Daur ulang mekanis tradisional (cincang dan giling) membuat serat putus, sehingga harus dicampur 70-80 persen bahan baru agar kain tidak mudah robek. Sedangkan daur ulang botol plastik jadi pakaian — yang sempat populer — kini menghadapi gugatan hukum karena dianggap mengalihkan botol dari rantai daur ulang aslinya.

Konsumen Jangan Berharap Banyak dalam Waktu Dekat

Para ahli sepakat: hari di mana kita bisa membeli baju hasil daur ulang kimia, memakainya, lalu mengembalikannya untuk didaur ulang lagi — belum akan terjadi dalam waktu dekat. Yang lebih realistis, industri fashion akan memperluas penggunaan teknik ini, tapi hanya dengan skrap industri — dan tidak akan mendekati level yang dibutuhkan untuk mengatasi lonjakan produksi tekstil global.

Untuk pasar Indonesia, berita ini jadi pengingat bahwa klaim "ramah lingkungan" dari merek global perlu disikapi kritis. Tanpa transparansi teknologi dan data skala produksi, jersey Piala Dunia daur ulang Nike masih lebih merupakan pencitraan daripada solusi nyata untuk darurat limbah fashion yang juga melanda negara kita.

Reporter: Feri Andika
Sumber: wired.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top