Bic Camera di Tokyo menerapkan ujian tertulis berisi 15 soal tentang semesta Pokémon bagi pelanggan yang ingin membeli ekspansi kartu terbaru. Kebijakan ini menjadi benteng terakhir pengecer di Jepang untuk menyaring kolektor asli dari serbuan tengkulak atau scalper yang kian agresif. Fenomena tersebut mencerminkan krisis spekulasi kartu koleksi yang kini melibatkan jaringan kriminal internasional.
Pemandangan tidak biasa terlihat di cabang Bic Camera Ikebukuro Barat, Tokyo. Calon pembeli kartu Pokémon (Pokémon TCG) tidak lagi sekadar mengantre dan membayar, melainkan harus menempuh ujian tertulis di tempat. Mereka wajib menjawab 15 pertanyaan seputar pengetahuan dasar dunia Pokémon tanpa bantuan ponsel, tanpa alat bantu, dan seluruhnya dalam bahasa Jepang.
Langkah ekstrem ini menyasar seri ekspansi terbaru bertajuk "Ninja Spinner". Manajemen toko hanya memberikan akses pembelian bagi mereka yang terbukti sebagai penggemar atau pemain aktif. Sistem ini terbukti efektif di lapangan; laporan dari pengguna media sosial di Jepang menunjukkan banyak spekulan gagal melewati tes acak tersebut dan terpaksa pulang dengan tangan hampa.
Selain ujian tertulis, Bic Camera menerapkan syarat administratif tambahan yang ketat. Pembeli wajib memiliki akun loyalitas aktif di aplikasi atau kartu fisik untuk melacak frekuensi pembelian yang mencurigakan. Setiap pelanggan dibatasi hanya boleh membeli satu kotak (box) per transaksi guna memastikan distribusi barang lebih merata kepada konsumen akhir.
Pengecer di Jepang kini mengadopsi taktik sabotase nilai pasar sekunder untuk menjerakan para scalper. Saat transaksi selesai, staf toko akan melepas segel plastik (shrink wrap) dan membuka kemasan luar kotak di depan pembeli. Produk yang sudah tidak tersegel kehilangan nilai jualnya secara drastis di mata kolektor investor yang mencari kondisi "mint" atau utuh.
Tindakan ini merupakan respons atas masifnya aksi borong yang sering kali menggunakan metode curang. Para profesional di bisnis ini kerap menyewa orang untuk mengantre, menggunakan identitas palsu, hingga memanfaatkan kartu SIM ilegal untuk memenangkan undian stok. Pada Oktober 2025, kepolisian Jepang bahkan menangkap dua warga negara asing yang membuat 30 akun fiktif demi mendapatkan puluhan kotak kartu eksklusif.
Daya tarik kartu Pokémon sebagai komoditas investasi meroket akibat pelemahan nilai tukar Yen. Harga kotak kartu di Jepang menjadi sangat murah bagi pembeli internasional, sementara nilai jual kembalinya di pasar global tetap tinggi. Kartu emas Mega Greninja ex dari seri Ninja Spinner, misalnya, sempat dihargai US$593 (sekitar Rp9,4 juta) pada Maret lalu dan kini nilainya menembus ribuan dolar di situs lelang.
Satu pak kartu yang di toko hanya seharga 5 Euro (sekitar Rp85 ribu) bisa berpindah tangan dengan harga 40 Euro (sekitar Rp680 ribu) hanya dalam hitungan jam. Margin keuntungan yang fantastis inilah yang mendorong fenomena "demam kartu" terus membara sejak dipopulerkan oleh kreator konten global seperti Logan Paul saat pandemi lalu.
The Pokémon Company sebenarnya telah menyadari masalah kelangkaan ini. Mereka meningkatkan target produksi hingga 10,2 miliar kartu untuk tahun 2025 setelah mencatatkan penjualan global sebesar US$2,2 miliar (sekitar Rp35,2 triliun) pada 2024. Namun, menambah pasokan secara ugal-ugalan bukan tanpa risiko bagi ekosistem permainan tersebut.
Di luar Jepang, ritel besar seperti Walmart di Amerika Serikat juga mulai membatasi pembelian maksimal lima pak per pelanggan. Langkah ini diambil setelah video viral di TikTok menunjukkan seorang tengkulak menguras seluruh isi rak pajangan dalam sekali angkut, yang memicu kemarahan komunitas pemain lokal.