Pemprov Jabar Jadikan Sumedang Pusat Budaya Sunda, Tata Ulang Wajah Kota

Penulis: Okta Nugraha  •  Minggu, 03 Mei 2026 | 15:43:16 WIB
Gubernur Jabar Dedi Mulyadi meninjau penataan wajah kota Sumedang sebagai pusat budaya Sunda.

SUMEDANG — Pemerintah Provinsi Jawa Barat resmi menetapkan Kabupaten Sumedang sebagai pusat penguatan budaya Sunda guna menghidupkan kembali nilai-nilai tradisi dalam pembangunan daerah. Langkah ini diambil untuk memastikan kemajuan fisik kota tidak meninggalkan akar sejarah dan jati diri masyarakat lokal.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), menyatakan bahwa Sumedang memegang posisi krusial dalam peta peradaban Sunda. Menurutnya, pembangunan daerah ke depan harus mampu menghadirkan kembali wajah kebudayaan dalam setiap sudut tata ruang kota secara nyata.

“Sumedang dan seluruh warganya memiliki semangat yang sangat mahal untuk sama-sama membangun daerahnya dengan memiliki dasar kebudayaan yang kuat. Pembangunan harus kembali menyatu dengan jati diri masyarakatnya,” ujar Dedi Mulyadi saat meninjau kawasan Sumedang, Minggu (3/5/2026).

Filosofi Sunda dalam Penataan Ruang Publik Sumedang

Rencana penataan ini akan menyentuh berbagai aspek infrastruktur, mulai dari jalan utama hingga elemen estetika kota. Pemprov Jabar mendorong pendekatan budaya yang terintegrasi, sehingga setiap pembangunan memiliki karakter yang khas, sederhana, namun sarat akan makna filosofis.

Fokus penataan meliputi revitalisasi ruang publik, desain gapura, sistem penerangan jalan, hingga penataan kios-kios pedagang. Semua elemen tersebut diarahkan untuk mencerminkan simbol-simbol Sunda agar masyarakat dan pendatang dapat merasakan atmosfer peradaban lokal yang kuat.

“Jalan, ruang publik, sampai detail kota harus punya rasa Sunda. Bukan hanya indah, tapi juga mengingatkan pada asal-usul,” kata Dedi. Ia menegaskan bahwa Sumedang bukan sekadar wilayah administratif, melainkan ruang peradaban yang menyimpan warisan nilai dan simbol masa lalu.

Integrasi Kawasan Pendidikan dan Karakter Generasi Muda

Selain infrastruktur fisik, konsep penguatan budaya ini juga menyasar kawasan pendidikan di Sumedang. Pemerintah ingin menciptakan lingkungan belajar yang mendukung tumbuhnya generasi muda unggul secara akademik sekaligus memiliki kedekatan emosional dengan budaya mereka.

Pendidikan di Sumedang diharapkan menjadi ruang tumbuh bagi pelajar untuk memahami filosofi lokal. Dengan demikian, kemajuan intelektual yang dicapai tetap berpijak pada nilai-nilai tradisi yang relevan dengan perkembangan zaman modern.

Langkah ini merupakan strategi jangka panjang untuk memastikan estafet kepemimpinan di masa depan dipegang oleh individu yang memahami identitas daerahnya. Budaya tidak lagi dipandang sebagai masa lalu, melainkan fondasi untuk membangun masa depan.

Makna Kirab Mahkota Binokasih bagi Pembangunan Daerah

Momentum penguatan identitas ini juga ditandai dengan pelaksanaan Kirab Mahkota Binokasih yang berlangsung pada Sabtu (2/5/2026) malam. Prosesi tersebut bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan simbol perjalanan panjang peradaban Sunda menuju kejayaannya kembali.

“Ini bukan sekadar seremoni, tetapi perjalanan untuk membangun masa depan. Sumedang harus menjadi contoh bagaimana budaya menjadi dasar pembangunan,” tegas Dedi Mulyadi.

Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bergotong royong dalam mewujudkan Sumedang sebagai pusat budaya yang sesungguhnya. Kebersamaan warga dianggap sebagai modal utama agar kota bisa maju tanpa kehilangan ruh aslinya.

Pemerintah berharap model pembangunan berbasis budaya di Sumedang ini dapat menjadi percontohan bagi kabupaten dan kota lain di Jawa Barat. Melalui kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat, pembangunan kampung dan kota diyakini akan lebih bermakna bagi kesejahteraan lahir dan batin.

Reporter: Okta Nugraha
Back to top