BANDUNG — Partai final Dago Vision Care 20/20 Padel Cup 2026 menyajikan duel lintas generasi yang menarik. Hartono Soekwanto (54) dan Eko Yuli (53) yang mewakili kelompok senior harus mengakui keunggulan Freandy dan Joshua, dua pemain yang usianya terpaut 40 tahun lebih muda.
Meski kalah, pencapaian Hartono dan Eko Yuli cukup istimewa. Mereka berhasil menembus partai puncak dari kompetisi yang digelar di Setiabudhi Social Club, Bandung, akhir pekan lalu tersebut. Sementara itu, posisi ketiga diraih pasangan Ely Miharjo (55) dan Erik Nurkamdani (40).
Perbedaan usia yang mencolok justru membuat laga final berjalan sengit. Hartono dan Eko Yuli tidak gentar menghadapi lawan yang lebih muda dan terus memberikan perlawanan. Freandy dan Joshua akhirnya keluar sebagai juara pertama setelah melewati pertandingan ketat.
Menariknya, Eko Yuli sendiri merupakan pemain dengan segudang prestasi sejak usia muda. Ia pernah menjadi juara tunggal dan ganda KU-10 Wijoyo Suyono di Surabaya. Ia baru diperbolehkan tampil di kategori Bronze Open karena belum pernah menjuarai kategori tersebut atau memperkuat tim PON.
Keberanian Freandy dan Joshua bersaing dengan pemain senior mendapat sambutan positif dari Hartono. Ia menilai kemunculan talenta muda seperti mereka menjadi sinyal bagus bagi perkembangan padel di Indonesia.
"Ini sangat positif. Anak-anak muda berani tampil dan bersaing dengan pemain yang lebih senior. Saya kira ini menjadi tanda bahwa regenerasi padel di Indonesia berjalan dengan baik," ujar Hartono.
Bagi Hartono, ajang ini memiliki makna tersendiri. Ia mulai mengasah bakat tenis sejak usia 11 tahun dan aktif bertanding setahun kemudian. Pada masa itu, Eko Yuli sudah menorehkan berbagai prestasi dan menjadi salah satu idolanya.
Bertanding bersama senior yang dikaguminya sejak kecil menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Hartono. Meski harus puas berada di posisi kedua, ia tetap bangga dan optimistis terhadap pencapaian yang diraihnya bersama Eko Yuli di pentas Dago Vision Care 20/20 Padel Cup 2026.