Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyatakan Gedung Pusat Kebudayaan Tionghoa Indonesia yang diresmikan Yayasan Dana Sosial Priangan (YDSP) menjadi bukti nyata keragaman budaya bisa hidup berdampingan dengan masyarakat. Sementara itu, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menekankan agar keberadaan gedung tersebut tidak menjadi jarak dengan warga sekitar dan justru harus memberi manfaat ekonomi.
BANDUNG — Perayaan ulang tahun emas ke-50 Yayasan Dana Sosial Priangan (YDSP) berlangsung istimewa dengan peresmian Gedung Pusat Kebudayaan Tionghoa Indonesia, Selasa (25/8). Wali Kota Bandung Muhammad Farhan yang hadir langsung dalam acara tersebut menegaskan bahwa kehadiran gedung ini merepresentasikan kebhinekaan yang menyatu dengan warga.
"Yayasan ini menunjukkan bahwa kebhinekaan dari kebudayaan di Kota Bandung ini bisa menyatu dan melebur dengan warga sekitar," kata Farhan di lokasi peresmian.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memberikan catatan khusus dalam peresmian tersebut. Ia meminta pengelola pusat kebudayaan untuk memastikan gedung megah ini tidak menciptakan kesenjangan dengan lingkungan sekitarnya.
"Gedung ini tidak boleh menjadi mercusuar yang semakin menjauh disparitas dengan lingkungan," ucap Dedi Mulyadi.
Menurut Dedi, kawasan sekitar pusat kebudayaan harus memberikan manfaat nyata bagi warga melalui berbagai kegiatan yang menunjang kreativitas dan ekonomi. Ia pun mengusulkan penataan kawasan secara menyeluruh agar terintegrasi sebagai destinasi wisata baru di Bandung.
Dedi Mulyadi membeberkan sejumlah rencana penataan yang bisa disinergikan dengan Pemprov Jabar. Salah satunya adalah penerapan ornamen khas Tionghoa pada Gerbang Tol Pasir Koja, trotoar, hingga penggunaan lampion sebagai penerangan jalan. Wilayah pemukiman sekitar juga akan ditata lebih rapi agar menarik minat wisatawan.
Selain penataan fisik, warga setempat akan didorong mengikuti pelatihan kewirausahaan. Pelatihan itu mencakup pembuatan kuliner khas, kerajinan tangan bernuansa Tionghoa, serta keterampilan pemasaran untuk menangkap peluang ekonomi dari peningkatan jumlah pengunjung.
"Caranya masyarakat sekitarnya dididik bukan minta sumbangan tapi dididik punya produktivitas," tegasnya.
Untuk menambah daya tarik, Dedi Mulyadi berencana menggelar pagelaran budaya secara rutin yang menggabungkan unsur kebudayaan Sunda dan Tionghoa. Kegiatan ini diharapkan menjadi ruang interaksi masyarakat sekaligus magnet wisatawan.
"Seminggu sekali, sebulan sekali dibikin pagelaran. Biar Pemprov yang biaya pagelarannya, enggak apa-apa, yang penting orang datang. Nanti pagelaran Sunda dengan Cina. Sunda dan Tiongkok," katanya.
Peresmian gedung ini menandai babak baru pengelolaan kebudayaan Tionghoa di Bandung yang diharapkan mampu menjadi contoh toleransi dan kolaborasi antarbudaya di Jawa Barat.