JAWA BARAT — Manajemen Telkom akhirnya buka suara terkait dua isu besar yang tengah menghangat: kinerja keuangan paruh pertama tahun ini dan masa depan MDI Ventures. Dalam keterangan resminya, SVP Group Sustainability & Corporate Communication Telkom, Ahmad Reza, memastikan fundamental bisnis perusahaan dalam kondisi solid.
"Hingga semester I kinerja Telkom sehat dan solid, laba tercatat tumbuh. Sore ini kami sampaikan detailnya," ujar Reza, Jumat (31/7).
Pernyataan ini muncul di tengah spekulasi pasar mengenai potensi penjualan MDI Ventures. Padahal, berdasarkan data resmi perusahaan, anak usaha yang membidangi investasi teknologi ini mengelola dana kelolaan (AUM) mencapai US$ 830 juta atau setara Rp 14,98 triliun. Portofolionya juga terbilang gemuk dengan lebih dari 80 perusahaan rintisan yang nilainya menembus US$ 708 juta hingga 2023.
Reza menegaskan bahwa Telkom bersama TelkomMetra selaku induk langsung MDI Ventures tengah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap portofolio bisnis. Namun, ia belum bisa membeberkan lebih jauh aksi korporasi tersebut. "Apabila terdapat informasi atau aksi korporasi yang bersifat material, perseroan akan menyampaikannya melalui mekanisme keterbukaan informasi dan saluran resmi sesuai dengan ketentuan yang berlaku," jelasnya.
Kabar ini pertama kali mencuat dari laporan CNBC International yang mengutip sumber anonim. Disebutkan bahwa TelkomMetra telah menunjuk Jefferies sebagai penasihat transaksi untuk mengkaji sejumlah opsi strategis, termasuk melepas kepemilikan di perusahaan modal ventura tersebut. Meski begitu, proses ini masih dalam tahap awal dan belum ada keputusan final.
Sebagai gambaran, pada kuartal pertama 2026 Telkom membukukan pendapatan Rp 37,18 triliun, tumbuh 1,5% dibanding periode sama tahun lalu. Segmen data, internet, dan jasa teknologi informatika masih menjadi tulang punggung dengan kontribusi Rp 23,64 triliun.
Sayangnya, pertumbuhan pendapatan ini tergerus oleh beban operasi yang meningkat signifikan. Beban operasi, pemeliharaan, dan jasa telekomunikasi melonjak 15,49% menjadi Rp 11,09 triliun, sementara beban penyusutan dan amortisasi naik 3,82% menjadi Rp 8,69 triliun. Alhasil, laba periode berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk terkoreksi 21,71% menjadi Rp 4,34 triliun.
Hingga akhir Maret 2026, total aset TLKM tercatat Rp 289,96 triliun, naik tipis 0,76% dari posisi Desember 2024 yang sebesar Rp 287,75 triliun. Dengan laba yang disebut tumbuh di semester I, pasar akan menanti rilis laporan keuangan resmi untuk melihat apakah tren penurunan laba kuartal pertama mampu dibalikkan.
Keputusan strategis terkait MDI Ventures dan kinerja keuangan ini akan menjadi sinyal penting bagi investor, terutama di tengah upaya Telkom memperkuat fokus bisnis inti dan menciptakan nilai jangka panjang di industri telekomunikasi yang kian kompetitif.