SUKABUMI — Bunga dan Nuranti berangkat pukul 05.30 WIB dari Cianjur, Senin (27/7/2026). Sekitar pukul 07.00 WIB, mereka tiba di area kampus Pasim Kota Sukabumi. Keduanya mendatangi International Job Fair dengan harapan mendapatkan pekerjaan di luar negeri yang menawarkan penghasilan lebih layak.
Bunga mengaku sudah mencari pekerjaan sejak 2021. Ia kerap dihadang syarat biaya administrasi yang tidak masuk akal. Ia menemukan lowongan kerja di wilayah Cianjur yang meminta setoran hingga Rp 6 juta untuk bisa masuk kerja.
“Karena ngelihat kerjaan di Indonesia kayak masuk pabrik juga susah banget. Kayak kebanyakan aku nanya-nanya daerah Cianjur yang wilayah aku aja masuknya harus pakai administrasi Rp 6 juta. Sementara UMR sini aja masih 3 jutaan,” kata Bunga di lokasi job fair.
Bunga sempat bekerja di pabrik garmen tanpa biaya masuk. Namun, pengalaman itu justru meninggalkan kesan pahit. Jam kerja panjang tidak sebanding dengan upah yang diterima.
“Itu enggak pakai persyaratan, enggak pakai uang (untuk masuk kerja). Tapi kayak jam kerjanya enggak masuk akal, contoh masuk kerja pukul 06.30, pulang Isya, dan gajinya cuman Rp 900.000. Aku digaji cuma Rp 900.000 di pabrik garmen,” ucap Bunga.
Nuranti, rekan Bunga, memiliki keluhan lain. Ia menginginkan proses rekrutmen lebih menitikberatkan pada kemampuan dan keterampilan calon pekerja. Persyaratan fisik seperti tinggi badan dinilai tidak relevan dengan pekerjaan.
“Iya, tinggi badan juga itu (dan persyaratan lainnya yang dianggap tidak ada hubungan dengan pekerjaan),” jelas Nuranti.
Bagi Nuranti, bekerja di luar negeri bukan sekadar mengejar gaji besar atau gengsi. Ada harapan sederhana yang ingin diwujudkannya: membantu membahagiakan orangtua melalui pekerjaan yang lebih layak.
“Iya itu juga salah satunya (bahagiakan orang tua lewat kerja ke luar negeri), teruskan juga sekalian bisa traveling,” tutup Nuranti.