SEMARANG — PWNU Jawa Tengah mengajukan usulan pemberian beasiswa dan kemudahan visa pendidikan ke Tiongkok bagi santri dan tenaga pengajar pesantren. Usulan tersebut diarahkan untuk memperkuat pembelajaran bahasa Mandarin di lembaga pendidikan Islam tradisional.
Langkah ini muncul dari kesadaran bahwa bahasa Mandarin kini menjadi salah satu bahasa bisnis dan diplomasi dunia. Dengan membuka pintu ke Tiongkok, pesantren diharapkan tidak hanya unggul dalam ilmu agama, tapi juga siap bersaing di kancah global.
Selama ini pesantren dikenal kuat dalam pengajaran bahasa Arab dan Inggris. Namun, peluang kerja sama ekonomi dan pendidikan dengan Tiongkok mendorong PWNU Jateng untuk menambahkan Mandarin ke dalam kurikulum unggulan.
PWNU Jateng menilai bahwa penguasaan Mandarin membuka akses beasiswa penuh di universitas-universitas terkemuka di Tiongkok. Selain itu, relasi ekonomi Indonesia-Tiongkok yang terus menguat juga membutuhkan lulusan yang fasih berbahasa Mandarin.
Dalam proposalnya, PWNU Jateng meminta pemerintah Indonesia untuk menyediakan beasiswa khusus bagi santri berprestasi. Tidak hanya itu, mereka juga mengusulkan skema visa pendidikan yang lebih mudah bagi pelajar pesantren yang ingin belajar ke Tiongkok.
Program visa tersebut diharapkan tidak terbatas pada jenjang perguruan tinggi, tetapi juga mencakup kursus singkat atau pertukaran budaya bagi pengajar dan santri. Dengan begitu, transfer pengetahuan bahasa dan budaya bisa berlangsung lebih cepat.
Pihak PWNU Jateng masih menunggu respons dari pemerintah pusat dan perwakilan Tiongkok di Indonesia. Mereka optimistis usulan ini akan mendapat dukungan, mengingat banyak pesantren di Jawa Tengah yang sudah memiliki hubungan baik dengan lembaga pendidikan Tiongkok.
Sejumlah pengurus pesantren menyambut baik usulan ini. Mereka berharap program tersebut tidak berhenti pada wacana, melainkan segera direalisasikan dalam waktu dekat. Jika berhasil, pesantren di Jawa Tengah bisa menjadi perintis pendidikan bilingual Arab-Mandarin di Indonesia.