JAWA BARAT — Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), nilai transaksi saham hari ini mencapai Rp8,85 triliun dari 18,51 miliar saham yang diperdagangkan dalam 1,91 juta kali frekuensi. Sebanyak 364 saham ditutup di zona hijau, sementara 241 saham melemah dan 185 saham stagnan.
Pergerakan indeks berbalik arah dalam 30 menit terakhir sesi II, ditopang oleh aksi beli di saham-saham berkapitalisasi besar. Sektor energi memimpin penguatan dengan kenaikan 0,9%, diikuti sektor barang baku yang naik 0,83%, dan sektor properti yang menguat 0,79%.
Tekanan jual yang dominan sejak sesi I perlahan mereda menjelang akhir perdagangan. Investor tampak mulai melakukan akumulasi di saham-saham berbobot besar yang harganya sudah terdiskon, mendorong indeks keluar dari zona merah.
Meski berhasil ditutup hijau, nilai transaksi hari ini tergolong moderat, di bawah rata-rata perdagangan sepekan terakhir yang berkisar Rp9,5 triliun. Hal ini mengindikasikan partisipasi pasar belum sepenuhnya pulih, dengan mayoritas pelaku pasar masih menunggu katalis baru.
Frekuensi perdagangan yang mencapai 1,91 juta kali menunjukkan aktivitas spekulatif jangka pendek masih tinggi, terutama pada saham-saham lapis kedua dan ketiga. Sementara itu, investor institusi cenderung wait and see di tengah ketidakpastian arah suku bunga global.
Pergerakan IHSG ke depan masih akan dipengaruhi oleh data inflasi Amerika Serikat yang akan dirilis pekan depan serta arah kebijakan Bank Indonesia. Pelaku pasar juga mencermati pergerakan harga komoditas energi yang dalam sepekan terakhir cenderung volatile.
Dari dalam negeri, data neraca perdagangan Juni 2026 yang akan diumumkan pekan depan menjadi katalis potensial. Jika surplus kembali melebar, ekspektasi penguatan rupiah bisa mendorong aliran masuk modal asing ke pasar saham.